Kamis, 10 Mei 2018

Jenis Cowok Ketika Menghadapi Patah Hati

Beberapa hari yang lalu gue menemukan kisah tragis percintaan seorang cowok dengan ceweknya. Kisahnya seperti ini...
Si cowok diputusin karena dia cemburuan sama ceweknya. Dia takut ceweknya punya yang lain. Jadi, akhirnya seperti ini:

"Kita putus!" kata si cewek, tanpa ragu. Mungkin sambil joget layaknya kartun Dora sewaktu tiba di tempat tujuan.
"Apa??? Salah ku apa emang?" jawab si cowok, pertanda gak percaya. Suaranya dibuat dramatis

"Kamu curiga terus sama aku! Asal kamu tau aku gak pernah selingkuh sama satpam kamu" jawab si cewek.

"Itu karena aku sayang kamu!" si cowok mencoba memberi pembelaan, matanya berkaca-kaca, kotoran hidungnya berjatuhan.

"Selain itu kamu juga hobi bohong! Mana janji kamu yang mau beliin aku pertalite 2 liter??" kata si cewek, nada suaranya makin tinggi. "Pokoknya, kita putus!" kata si cewek dengan mantap.

Si cowok langsung menangis, lalu dengan matanya yang basah, dia menatap ceweknya dengan muka sangat bersedih, "KALO KAMU PUTUSIN AKU, AKU BAKAL BUNUH DIRI! AKU GAK BISA HIDUP TANPA MU. TANPA MU AKU BAKAL KEHILANGAN ARAH! TANPA MU AKU BAGAI BUTIRAN DEBU!" Lalu si cowok gantung diri, menggunakan headshet yang ia pakai.


Dari ilustrasi di atas, gue mau nulis tentang reaksi-reaksi para cowok ketika menghadapi patah hati. Entah karena diputusin karena selingkuh sama bokap gebetannya atau menolak aborsi. Semua jenis cowok ini gue tulis berdasarkan pengamatan pada orang sekeliling yang kebetulan gue emang terbiasa hidup dalam lingkungan orang galau.

1. Galau

Jenis cowok ini ketika lagi patah hati, terlalu suram untuk digambarkan. Kalo mereka patah hati, mereka bakal galau hebat. Mendadak jadi sering bengong, mengasingkan diri di dalam goa bertahun-tahun lamanya. Semua demi menyembuhkan rasa sedih yang mendalam.

Sehabis putus, biasanya mereka menangis, mengingat setiap momen kebersamaan yang hanya menyisakan kenangan yang takkan terjadi lagi. Kalo pun mereka pergi bersama teman, pasti terlihat berbeda, jadi sering melamun.

Ada juga tipe galau kronis di mana si cowok bakal mencari perhatian dari orang-orang. Misalnya di sosial media, si cowok akan ngelike, ngeshare, atau ngepost foto yang berisi kata-kata galau, bijak, bahkan ancaman. Yang galau semacam, "Aku menangis bukan karena aku lemah, tapi aku menangis karena merasa kehilangan."

Si cowok ngepost foto berisi kalimat seperti itu berharap mendapat simpati dari orang lain seperti, "Sabar aja bro." Atau, "Sama bro, kita senasib, gue juga nangis. Lo berapa lama nangis? Gue semingguan." Atau, simpati sekaligus promosi, "Galau? Better-in aja!"

Bukannya mendapat simpati, atau keliatan keren, cowok kayak gitu menurut gue jijik banget. Sehabis itu cowok yang ngupload foto berisi kalimat bijak, "Putus berarti Tuhan mencegah seseorang mencintai orang yang salah. Yang terbaik akan datang." Keren sih, kalo gue ngepost kalimat begini, habis itu gue bakal ngerasa kehilangan kejantanan gue.

Yang paling parah, bernada ancaman. "Mungkin kamu dengan mudahnya mutusin aku. Tapi ingat, karma berjalan." Serem abis. Habis sayang-sayangan, kini ancam-ancaman.

Cowok tipe galau lumayan banyak juga sih, galau sih wajar, tapi asal jangan terlalu berlarut. Malah sekarang kebanyakan, banyak yang galau karena patah hati sampai merasa hidup tiada artinya lagi.

2.  Cuek

Jenis cowok ini kalo sehabis putus, bakal ngerasa biasa aja. Seakan gak terjadi apa-apa. Contohnya kalo dibuat suatu adegan.

"Kita putus!" kata si cewek membentak si cowok.
"Putus? Yaudah sih. Makasih ya." balas si cowok, dengan muka datar, lalu pergi. Kemudian dia berbalik lagi mendekati si cewek, "Inget bayar hutang pembalut yang kemarin ya." kata si cowok, sekaligus pemilik warung.

Cowok cuek itu menurut gue keren banget. Berasa badannya menggunakan ribuan baju besi yang gak bisa ditembus. Gak merasakan sakit.

3. OverActing

Jenis cowok OverActing paling banyak gue temukan saat ini. Mereka kalo abis putus bakal menanggapi dengan berlebihan. Contohnya, "Kamu putusin aku? AKU BAKAL GANTUNG DIRI DEPAN RUMAH KAMU! BIAR KELUARGA MU JUGA LIHAT, SEBERAPA BESARNYA CINTA KU!"



Mereka terlalu berlebihan, seolah-olah putus cinta berarti hidup mereka sia-sia. Seakan mereka udah gak punya tujuan hidup lagi. Seakan kehilangan segalanya di dunia. Banyak yang ingin mati, karena cinta. Gue ngerasa orang orang kayak gitu goblok banget. Hidup itu gak hanya soal cinta, masih banyak hal lain yang harus dihadapi. Malah lebih serem penagih hutang dari pada pemutus cinta.

4. Pendendam

Bagi gue, jenis cowok pendendam itu paling serem dibandingkan yang lain. Sakit hati yang dialami, menimbulkan keguncangan dalam dirinya. Gak bisa menerima keadaan, balas dendam pun menjadi cara terbaik untuk melampiaskan kekecewaan.

Contohnya seorang cowok yang baru aja diputusin karena sering berak di lantai Mall sewaktu mereka lagi jalan berdua. Diputusin sepihak, si cowok gak terima, dia marah. "KAMU MUTUSIN AKU? LIHAT AJA HIDUP MU GAK AKAN PERNAH TENANG!"



Setelah putus, kehidupan si cewek makin berubah. Keluarganya dibantai semua. Setiap malam si cewek diteror. Setiap paginya si cowok yang dendam, rajin meninggalkan pup di lantai depan pintu rumah si cewek.

Di atas itu contoh yang paling ekstrim sih. Tapi kayaknya gak mungkin ada penjahat yang meninggalkan pup, di lokasi kejadian perkara.

Banyak orang yang sehabis putus, masih menyimpan dendam, kesal, dan gak terima. Kebanyakan mereka mendoakan yang buruk untuk mantan pacarnya itu. Jodohnya surut lah, diputusin juga lah, rumahnya kebakaran lah, ladang ganja nya gak panen lah, pokoknya apa pun yang buruk selalu mereka doakan agar hal buruk yang diharapkan bisa terjadi menimpa orang yang bikin mereka sakit hati.

5. Dewasa

Cowok yang paling keren saat patah hati adalah cowok yang dewasa. Dewasa di sini dalam artian bijak, bukan dewasa yang bilang, "Gak apa. Aku yang salah. Maaf. Aku boleh ya bagi video dewasa kita ke temen aku? Kata orang, berbagi itu indah."

Yang gue maksud cowok dewasa itu, waktu putus dia menyikapi dengan bijak. Mencoba mencari tau apa yang salah, berusaha memperbaiki, kalo gak bisa, dia menerima dengan lapang dada. Gak marah, gak dendam, apalagi sampai ninggalin pup di depan rumah mantan nya.

Tetap berusaha berteman, tanpa membenci orang tersebut. Benci perpisahannya, bukan orangnya. Keren abis. Dan sayangnya cowok jenis ini, langka. Gue selalu menemukan jenis cowok yang nomer satu dan tiga.

Kalo abis putus, dia bakal berpikir bijak. "Mungkin dia bukan cinta terbaik. Tuhan selalu punya rencana." Lalu dia melanjutkan hidupnya, berusaha sampai akhirnya bertemu cinta terbaik.

Tapi kadang jadi cowok jenis cuek dan dewasa itu juga salah. Banyak orang bakal nanya, "Kok lo gak sedih? Gak sayang ya?" Ya, pasti ada aja yang nanya kayak gitu.

Di akhir post ini, gue cuma mau bilang, jadilah orang yang bijak jika mengalami patah hati. Sedih boleh, tapi jangan berlarut sampai menganggu kehidupan lain. Apalagi sampai mau bunuh diri karena cinta, itu goblok banget. Dan, jangan terlalu ngumbar kesedihan, gak semua orang mengerti apa yang lo rasain. Kadang pasti ada aja yang bercandaiin pas lo lagi serius, lagi sedih.

Oke deh, itu aja yang mau gue tulis. Jadilah bijak. Jadilah cowok yang kuat. Jadilah seperti gue. Walaupun kemampuan berantemnya setara anak playgroup, tapi hati nya sih sekuat lansia.

Thanks for read, see u guys!

Senin, 07 Mei 2018

Ketika Hode Berkeliaran

Di dalam dunia game online, kita bisa menjadi siapa pun yang kita inginkan. Misalnya seseorang yang cupu di dunia nyata, di game online, dia bisa menjadi seorang jagoan. Seakan game online memberikan kesempatan kepada seseorang untuk menaikkan status dan derajatnya di masyarakat. Yang malu menjadi pengemis di dunia nyata, di game online bisa menjadi pengemis sukses.



Pengemis inilah yang gue sebut dengan hode. Sebelum lebih jauh lagi, gue mau jelasin apa itu Hode. Hode adalah jenis manusia yang melakukan pemalsuan kelamin demi meraup keuntungan, atau pun demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Biasanya sasaran korbannya adalah orang yang haus akan perhatian, kesepian, dan pecundang di dunia nyata.

Karena di game online yang main kebanyakan cowok, maka para penjahat ini akan menyamar menjadi cewek demi menarik perhatian mangsa nya. Cara mereka juga lumayan pinter, menggunakan nama cewek di akun game online, lalu mencari mangsa yang bisa dibilang akunnya punya banyak harta kekayaan, lalu mengirim pesan kepada pemilik akun itu, "Hai, aku tadi yang bikin tim kita kalah."

Lalu, si pemilik akun menjawab, "DASAR BEGO KAMPRET! BIKIN KALAH, MATI AJA LU!"

Kalo udah kayak gini, si penjahat akan mengeluarkan jurus maut, seperti obat penenang buat hewan buas, "Ih maaf, Aku kan cewek, baru belajar main."

"Ah yang bener? Maaf, ya, aku marah kayak gitu," kata si cowok bego yang bakal jadi korban.

Lalu mereka pun saling chattan, main game bareng, dan kalah lagi karena si penjahat nyamar ini. Si cowok pengen marah, tapi karena cewek, dia melampiaskan ke tetangganya. Setiap hari saling chattan, sampai pada akhirnya si cowok bosen juga, lalu dia bertanya pada si cewek palsu, "Aku bosen chattan terus. Aku pingin liat muka kamu. Video call yuk?"



Diminta video call, gak mungkin si cewek palsu ini menjawab, "Yuk, tapi maaf badan dan muka ku kayak cowok. Tenang aja, aku gak punya batang! Dan aku juga M dari kuping." Pasti dia punya banyak alasan untuk menolak ajakan video call, seperti, "Maaf, kamera hape aku rusak." Atau, "Maaf, hape aku belum diservis." Atau lagi, "Maaf, ini hape tetangga aku."

Dan bodohnya, si cowok malah percaya, "Oh iya gak apa. Lain kali aja deh."

Semakin lama hubungan yang sebenarnya sesama jenis ini makin erat dan mesra. Disaat itulah si penjahat yang menyamar ini bakal mengutarakan niat dan tujuan sebenarnya. "Kita kan udah lama kenal, boleh gak aku pinjen akun kamu? Kita kan udah deket, masa kamu gak percaya?"

Lalu si cowok yang pikirannya udah dicuci, dan hanya mikirin selangkangan pun meminjamkan akunnya ke cewek yang dia kenal dari game. Beberapa menit kemudian, si cowok login ke akunnya, dan passwordnya salah. Si cowok panik, jerit-jerit, neleponin 14045. Ternyata akun nya dihack.

Si cowok bertanya pada cewek yang dikenalnya, pas mau mengirim message, ternyata akun si cowok diblock. Si cowok diam sebentar, menatap layar hapenya dalam-dalam, mulutnya komat-kamit, "KEPARAT! GUE KENA TIPU! DUH GOBLOK GUE! MOGA LO MATI PENIPU!" kata si cowok dengan umpatan kesal, lalu menyesal, dan nangis sejadi-jadinya.

Di atas merupakan contoh dari orang yang kena tipu sama hode. Jadi di sini, gue, sebagai seorang yang berpengalaman atau expert dalam dunia perhodean, dan pernah mencoba, mau ngasih tau ke kalian biar gak kena tipu. Gue mau ngasih tau ciri-ciri hode dan solusi mengatasi kejahatan mengatasnamakan jenis kelamin.

1.  Dari proses chat

Kalo dari awal dia chat kayak, "Haiii, kk, boleh pinjem akunnya satu?" Terus lo jawab, "Gak ada." Kalo dia manusia normal, maka dia menjawab, "Oh, yaudah, makasi ya kk." Kalo dia menjawab, "Ah, boong kk. Aku cewek kk. Masa gaboleh minjem satu?" Itu berarti, dia penjahat kelamin. Kalo keadaan udah kayak gini, lo kerjain aja dia.

Misalnya lo bilang, "Kamu cewek? Coba foto bokong kamu. Biar aku percaya." Kalo dia menolak, berarti dia hode alias penjahat nyamar. Kalo lo paksa, dia gak mau, ada kemungkinan dia cewek beneran. Kalo dia mengirimkan foto seperti itu, dan ternyata emang cewek asli, itu berarti... rejeki.

2. Pas ngajak videocall

Untuk membuktikan kebenaran jenis kelamin seorang pemain game yang anda kenal, maka ajaklah dia videocall. Kalo dia menolak dengan berbagai alasan aneh macam, "Maaf, kamera hape aku rusak." Atau, "Maaf, hape aku perlu diservis." Yang paling parah, "Maaf, aku gak ngerti cara videocall." Jika dia menolak, percayalah, dia hode beneran. Kalo dia terus menolak, jangan dipaksa seperti, "Kalo kamu gak mau videocall, yaudah deh aku mau videocall sama orang tua kamu. Mau nanya kamu tuh batangan gak."



3. Ngajak ketemuan.

Cara paling ampuh dari semua cara di atas, ajak dia ketemuan. Biar langsung tau gimana wujud asli nya. Kalo dia menolak dengan berbagai macam alasan seperti, "Maaf banget, gak dikasi keluar rumah." Lalu, "Maaf, gak ada kendaraan nih." Itu pertanda dia memang Hode. Langsung aja bikin dia skakmat, "Yaudah, sini alamat kamu. Biar aku samperin."

Kalo dia menolak dengan berbagai macam alasan seperti, "Jangan, aku gak punya rumah." Atau, "Jangan, aku gak punya rumah. Sekarang aku ngekost di Alfamart." Atau, "Maaf, aku tinggal nya nomaden. Ini sumber daya di hutan tempat ku tinggal udah mau habis." Yakinilah bahwa dia pemalsu kelamin.

4. Dikirimin banyak foto.

Biasanya untuk membuat korbannya lengah dan percaya, si penjahat akan mengirimkan foto-foto cewek yang dia dapat dari google. Untuk meracuni pikiran korbannya, kadang ada juga yang ngirimin foto bagian terlarang tubuh untuk mencederai otak korbannya. Manusia kalo udah napsu, pasti bakal khilaf, pasti bakal ngelakuin apa aja.

Saran dari gue, jangan percaya sama foto profile seseorang. Atau avatar mereka di dalam game. Belum tentu itu asli. Sekarang di google bisa nyari foto apa aja. Kadang mereka menggunakan foto cewek yang gak terlalu dikenal. Yang paling mencurigakan kalo fotonya cewek putih bening, kekorea koreaan gitu.



Kalo dikirimin foto dia, mendingan lo suruh dia foto yang lain. Misalnya foto wajahnya lagi sedot kloset. Lagi nyundulin tembok. Apalah. Terserah kalian.

Saran dari gue, jangan percaya sama orang yang gak dikenal. Yang dikenal aja kadang malah bisa berbuat jahat. Apalagi kalo main game online, kalian mencurahkan segalanya untuk akun kalian itu, beli ini itu pake uang asli. Kasian kalo sampai semua lenyap karena napsu sesaat. Terutama buat cowok-cowok, napsu membunuhmu.

Kalo udah terlanjur kena tipu, yaudah deh, pasrah aja. Berpikir positif aja. Kalo yang nipu ternyata cewek beneran, siapa tau itu jodoh di masa depan. Gue jadi ngebayangin kalo kayak gitu, pas mau nikahan, temen nanya di mana bertemu dia, dengan santai gue jawab, "Ketemu di game online. Dia pernah nyolong akun gue."

Apalagi kalo suatu hari, anak pasti bertanya, papa sama mama gimana sih kok bisa ketemu. Gue menjawab santai (sambil kibas-kibas voucher game online) "Dulu, mama kamu pernah ngehack akun papa. Terus papa lapor polisi, pas keciduk, ternyata cewek. Papa gak jadi penjaraiin mama kamu, lebih bagus dikawinin."

Jadi, intinya, hati-hati aja sama orang yang gak dikenal. Apalagi yang mengatasnamakan kaum perempuan. Itu pecundang abis. Buat kalian yang menjadi cewek demi mendapat apa yang kalian inginkan, jantan dikit lah. Ajak korban lo berantem, kalo korban lo kalah, lo sekap dia, interograsi, siksa sampai dia mau ngasih tau password dan ID game online nya.

Oke itu aja post gue, semoga gak ada manfatnya. Gue menulis post ini di Jogja, depan kamar hotel dalam keadaan mabuk. Mabuk karena nyium bau kaki sendiri.

Oke thanks for read, see u guys!

Sabtu, 05 Mei 2018

Pilih Mobile Legends atau Aku?

Bermain game Mobile Legends sangatlah menyenangkan, bagi yang gak punya pacar. Sedangkan yang punya pacar, bukannya dapat kesenangan, malah seperti ingin bunuh diri. Karena mereka harus memutar otak biar bisa main mobile legends. Mereka harus jeli melihat kesempatan, saat pacar mereka lengah, gak sadar, iya, pacar rasa jambret.



Mereka juga harus bisa membuat alasan seperti, "Aku mandi dulu ya, nanti chat lagi." Sehabis itu mereka menghilang berjam-jam di kamar mandi. Gak tau bagaimana kabarnya, apakah selamat atau enggak.

Selain itu mereka juga harus menunggu sampai pacarnya tidur. Menunggu ini lah yang berat. Biasanya si pacar tidurnya gak menentu, bisa cepat, atau yang paling buruk, bisa gak tidur. Kalo udah kayak gini, mereka gak bisa tinggal diam, mesti mencari cara biar pacar mereka tidur. Misalnya dengan menakut-nakuti pacar mereka. Contohnya, "Sayang, ini udah malem loh. Kamu gak tidur? Nanti kena herpes loh." Atau, "Sayang, kamu gak tidur? Ini udah malem loh" kata mereka, pukul jam 5 sore.

Opsi lain mungkin dengan cara pura-pura tidur.  Kalo mau main dari jam 4 sore, mungkin alasan akan seperti ini, "Sayang, aku harus tidur sekarang. Gak dikasih mama megang hape, soalnya besok aku ulangan harian."

Mungkin ada yang punya pasangan tapi pasangannya gak mempermasalahkan bermain Mobile Legends. Itu langka, tapi tetep aja ditinggal main game itu lama-lama gak enak.
Semua ini dilakukan demi menghindari yang namanya gangguan dari telepon mendadak, spam yang bikin hape error, notifikasi yang memenuhi layar. Itu semua kalo terjadi pas lagi main, rasanya, kampret abis.

Berdasarkan apa yang gue tulis di atas, maka gak jarang pasangan yang putus hubungan hanya karena Mobile Legends. Game ini menjadi semacam ancaman yang lebih berbahaya dari orang ketiga. Sebut aja orang ketiga tak kasat mata. Post ini gue tulis untuk para cewek-cewek yang suka marah dan ngelarang cowok nya main mobile legends atau sebaliknya para cowok yang suka nangis-nangis karena ceweknya main Mobile Legends

Ini alasan kenapa main Mobile Legends itu gak bisa diganggu.

Gak bisa pause> satu hal yang harus kalian tau, main game beginian gak bakal bisa dipause, atau berhenti seenaknya. Mobile legends itu termasuk game online, yang terkoneksi banyak orang di berbagai tempat. Bukan game rental, game LAN warnet yang bisa seenaknya, "Stop bentar bro, gue mau pipis" Bisa aja berhenti, tapi beresiko dikucilkan masyarakat, diludahi banyak orang. Gue sendiri pernah menemukan orang yang dibully habis-habisan gara-gara di tengah permainan berhenti mendadak akibat bales chatingan pacarnya.

Gue jelasin lagi, ini game online, pas main bakal ketemu banyak orang di berbagai tempat. Jadi pas main itu bakal tim lawan tim. Kalo salah satu anggota tim ada yang bermasalah, otomatis itu bakal ngeganggu yang lainnya, bisa bikin kalah. Bukan hanya ngerugiin diri sendiri, tapi orang lain juga kena dampaknya. Otomatis yang bikin kalah ini bakalan dicaci maki. Gue belum pernah menemukan ada orang yang bereaksi kalem dan bijak, "Udah gak apa, kita lanjut main aja. Bisa aja dia ada keperluan di dunianya sendiri."

Jadi, kalo pas lagi main game gini lebih baik jangan diganggu, biarin aja dulu, tunggu selesai.

Perlu Serius> untuk meraih kemenangan, diperlukan keseriusan dalam bermain. Siapa sih yang bisa main serius kalo dispam, ditelepon mulu. Gak heran kalo banyak pacar kalian yang marah, ya gitu deh alasannya, lagi serius kok diganggu? Apalagi kalo pacar kalian emang niat mau jadi pemain yang jago, yang hebat, itu perlu keseriusan dalam bermain. Gak mungkin ada orang hebat yang main sambil balesin chat, nelpon, atau ngerjain hal lain.

Kalo pacar kalian pengen jadi pemain yang hebat, yang mengikuti tournament, mereka harus fokus. Gue belum pernah ngelihat pemain jago di tournament besar lagi main sambil teleponan.

Butuh waktu> Selain harus serius, hal yang juga penting yaitu butuh waktu. Game kayak gini gak bisa diprediksi kapan selesai, tergantung dari yang main. Kalo sama-sama jago, bisa lama banget, ya paling 30 menitan sekali main. Sebenernya bisa aja selesai dalam waktu 2 menit, kalo semuanya diteleponin temen atau pacarnya.



Jadi ini saran-saran gue buat yang main Mobile Legends, bagi yang udah punya pacar ataupun belum.

1. Jangan punya pacar

Buat yang belum punya pacar, gue saranin jangan nyari dulu kalo kalian mau bener-bener jadi orang sarap yang hidup untuk sebuah game. Kalo main game buat sekedar hiburan dari kejenuhan sih gak apa. Kasian aja sama pasangan kalian ditinggal main mulu, giliran dicariin, malah marah, bikin sakit hati, pada akhirnya putus.



Gue sebagai orang yang gak pernah punya pacar, jadi ikutan kesel. Lihatlah kawan, kalian udah menyiakan pacaran, padahal di luar sana masih banyak yang terlantar, butuh kasih sayang, seperti gue.

Kalo kalian udah terlanjur punya pacar, dan pengen serius main, ya, yang penting bisa ngatur waktu. Yang adil. Misalnya, kalian bilang begini ke pacar, "Bebeb ku, aku main Mobile Legends dulu ya. Nanti aku kabarin... pas gamenya udah tutup."


2. Ajak pacar kalian main game juga

Solusi terbaik dari semua problem: ajak pacar kalian main bareng. Bujuk dia, bimbing dia perlahan, jika merepotkan, buang dia ke jamban!  Main bareng Mobile Legends bersama pacar itu sebenarnya romantis banget. Seru, gak mahal, dan gak pusing pilih tempat. Bisa main di zebra cross, genteng rumah, ruang guru, dan masih banyak lagi.

Ajarilah bermain Mobile legends dengan benar, jangan sampai terkena pengaruh ingin beli barang di game seperti skin pake uang nyata. Buat cowok, awasi cewek kalian jangan sampai dia ngemis skin sama cowok lain, terus berpaling hati. Karena juga cowok seperti itu memberi dengan niat terselubung, meminta kembalian seperti 'Foto bagian tubuh kamu'

Buat cewek, jaga cowok kalian, agar tidak nyamar jadi cewek lalu ngemis skin dengan embel-embel 'Gue kasih tubuh gue'  pada cowok-cowok kelaparan di luar sana. Karena banyak para cowok yang menyamar jadi cewek demi mendapat apa yang dia ingiinkan.

3. Jangan menghancurkan hubungan kalian

Nah, ini yang mau gue kasih tau lagi. Sewaktu gue main Facebook, banyak banget gue ngelihat screenshot dari cowok yang mutusin ceweknya karena fokus main game Mobile Legends. Herannya, mereka malah bangga lagi. "Gimana Vroh? Gangguin mulu sih :v" Kalo gak, ya, ceweknya curhat, harus gimana lagi menghadapi si cowok yang gila game.



Yang berkomentar di status seperti itu juga sadis banget. Kalo cowok yang komen, pasti membela kaumnya, "Setuju vroh :v Hidup gamers!" Sedangkan kalo cewek, juga sama-sama membela kaumnya, "Betul tuh, cowok gitu emang bajingan. Gue juga diputusin gara-gara game."

Gue ngerasa kasian sama korban putus sepihak cuma karena gak mau diganggu main game. Ya, kalo lo dari pagi sampai pagi minta ditemenin mulu, ya, lo salah juga sih. Pasangan juga butuh hiburan.



Kalo lo putus karena game, terus ngapain pacaran? Ngapain lo susah-susah perjuangin kalo pada akhirnya putus dengan mudah? Main game emang menyenangkan, tapi punya pasangan yang care sama kita itu jauh lebih menyenangkan. Suatu hari yang mendampingi kita dalam menghadapi segala rintangan di dunia itu pasangan, bukan game. Game hanyalah hiburan, bukan harus menjadi prioritas nomer satu di hidup.


Intinya sih gue cuma gak suka aja ngeliat orang yang putus karena main game, karena gak bisa bagi waktu, karena egois juga. Lupa sama apa yang mereka perjuangkan dari awal. Oke kayaknya itu aja yang mau gue tulis. Semoga gak ada lagi yang putus karena masalah soal game. Dan buat yang udah putus, semoga jadi jomblo abadi kayak gue.

Oke thanks buat yang udah baca, seperti biasa, gak ada manfaatnya. Thanks and see u !



Senin, 30 April 2018

Kampus dan Masa Depan

Ketika gue baru lulus SMP, pertanyaan pun muncul, "Mau sekolah di mana?" Dan, tanpa pikir panjang gue langsung bilang, "Yaudah, di sini lagi aja." Ya, kebetulan sekolah gue emang ada SMA nya juga.

Berbeda dengan sekarang, saat gue baru lulus SMA, jika ditanya, "Mau kuliah di mana? Jurusan apa?" Gue gak tau, gak bisa jawab. Gue bahkan gak tau apa kelebihan gue, apa rencana hidup gue di masa depan.



Gue sering berpikir, 'Bakal jadi apa gue nantinya?" "Mau kerja apa?" "Apa sebenernya yang gue bisa?" Itulah yang selalu menghantui pikiran gue menjelang lulus dari SMA.

Sedangkan temen gue sendiri, mereka sudah punya jawaban tersendiri. "Mau kuliah penerbangan! Jadi pramugari!" Terus ada yang pengen jadi desainer, akuntan, pengusaha, bahkan mungkin ada yang cita-citanya pengen cepet beranak.

Gue gak tau mau jadi apa.

Memilih kuliah berbeda dengan memilih SMA. Milih SMA enak, santai. Beda dengan Kuliah, mesti mikir mau jurusan apa, pas lulus kerjanya jadi apa. Salah jurusan, masa depan akan dipertaruhkan. Masa depan suram, sama dengan tidak menghargai apa yang Orang Tua perjuangkan untuk anaknya agar bisa sekolah, berharap masa depannya jadi lebih baik.



Kebingungan ini dibuat tambah parah ketika banyaknya sosialisasi dari kampus lain yang dateng ke sekolah gue. Mereka selalu memakai cara yang sama: embel-embel terjamin kerjanya. Apalagi gue mendapat sebuah pencerahan: semakin bagus kerjaannya maka semakin cantik ceweknya. Gue jadi termotivasi, untuk mendapat pekerjaan yang bagus nantinya.



Gue mulai berpikir keras. Kalo gue jadi desainer? Kayaknya gak mungkin, gambar pegunungan aja seharian belum kelar. Jadi Pramugara? Gue mabok pesawat. Kerja di kapal pesiar? Gue gak bisa renang. Kerja di hotel? Baru ngangkat galon aja udah bikin koma. Pengangguran? Udah terlihat bakatnya dari kecil.

Jawaban dari pertanyaan "Mau jadi apa?" belum juga terjawab. Hari terus berlalu, semakin mendekati bulan-bulan kelulusan. Gue kembali berpikir, mengingat hal lama, apa bakat yang gue punya dari dulu. Gak ada yang gue ingat, kecuali dikejer tetangga karena ngelempar batu ke rumahnya.

Dulu, pas SD, gue suka baca buku cerita macem-macem. Bahkan gue suka berkhayal, bikin cerita itu kayaknya seru. Gue mulai menulis cerita aneh, seperti tulisan tentang legenda terbentuknya sebuah laut, prosesnya terjadi karena seorang manusia yang... bukan karena kesaktiannya, atau tongkatnya, tapi karena dia pipis sembarangan.

Pas SMP, gue iseng menulis kalimat perpisahan. Kebetulan ada temen yang baca, dia berkomentar katanya bagus. bagus karena kata-katanya atau karena ditulis bukan pake bulpen dia?

Pujian itu kembali gue ingat, dan apa yang gue lakukan di masa lalu. Gue jadi tau apa yang harus gue lakukan: Kenapa gak jadi penulis aja? Gue ngerasa menjadi penulis itu keren. Kerjanya buat cerita sesuai yang dia pengen. Tapi gue juga ngerasa: jadi penulis itu gak gampang. Prosesnya lama, gak punya karir seperti orang pada umumnya. Penghasilan gak menentu, dan sering diremehkan orang. Banyak orang bilang jadi penulis itu gak akan menghasilkan.

Sampai pada akhirnya gue mengenal Raditya Dika. Dia adalah penulis yang sukses, yang mengawali karirnya dari blog, lalu dia kembangkan ke banyak bidang lainnya. Gue jadi terinspirasi, kenapa gue gak nulis aja? Dan, langkah pertama yang gue lakukan: membuat blog. Gue menuliskan di blog gue apa aja keseharian gue, keresahan gue terhadap suatu hal, dan banyak lagi. Udah banyak yang gue tulis, sampai saat post ini dibuat. Walaupun juga sampai saat ini, gak ada yang baca. Tapi gue gak mau nyerah gitu aja, inilah yang namanya proses.



Selain ngeblog, kerjaan lain gue juga menulis cerita yang sampai sekarang, gak ada yang selesai. Baru beberapa halaman, ah cerita ini jelek, buat yang lain. Ah jelek, ganti lagi. Gitu aja terus. Pernah sekali dulu gue meminta pendapat temen soal cerita gue. Dengan penuh niat, gue langsung ngeprint beberapan halaman untuk dia baca. Setelah dia baca, dia bilang, "Kayaknya lo perlu banyak baca novel, deh." Dari kalimatnya, gue tau sebenarnya dia gak enak untuk bilang jelek. Gue kecewa berat, bukan karena komentarnya, tapi karena uang hasil print gue gak dibalikin, dan naskah gue diambil gitu aja. Selain kehilangan uang, efek samping setelah baca cerita gue: Kita jadi gak saling kenal.

Dikomentarin kayak gitu gue gak marah. Malah gue meresapi perkataannya, mencoba memperbaiki kekurangan gue dalam menulis. Gue ngedengerin saran dari dia, dan gue juga bertindak. Mendadak gue jadi suka baca banyak novel. Hampir sepanjang hari gue habiskan untuk baca novel, di rumah, di sekolah, bahkan saat jam pelajaran berlangsung. Waktu istirahat juga gue pake buat baca novel. Tingkah laku gue yang sering baca novel ini membuat temen gue heran. Gue paling ngejawab santai, "Gue suka baca novel karena bikin bahagia. Kalo baca buku pelajaran bikin gue stres."

Berkat baca novel, kemampuan gue dalam menulis jadi semakin meningkat. Ya walaupun sih yang baca gak ada meningkatnya. Paling cuma gue, atau maksa temen buat baca. Itu pun gue mesti nyandera keluarganya.Gue menulis cerita keseharian gue yang bisa dibilang agak goblok juga, apalagi kalo berhubungan dengan cewek. Suatu ketika seorang temen cewek gue bilang, "Gue baca blog lo tadi, gila ngakak banget, ada cerita lain gak?" Seketika mendapat pujian dari temen, bikin gue jadi makin bersemangat buat nulis. Lalu gue ngirimin link blog gue, dan semoga aja dia baca sampai post ini.

Buku yang bikin gue terinspirasi untuk nulis di blog


Pujian memang menyenangkan, tapi gue gak mau terlalu seneng karena gue belum mendapatkan hinaan. Untuk menjadi hebat, seseorang perlu menghadapi yang namanya hinaan dan kritikan. Mendapatkan Hinaan? Biarkan. Bakar aja. Mendapat Kritikan? Dengarkan, lalu perbaiki diri. Mendapatkan pujian? Semoga terus, sih. Gue udah siap kalo suatu hari gue dihina, itu hal yang wajar. Karena gak semua orang bisa suka sama kita.

Semakin giat gue nulis, semakin gue tau apa impian terbesar gue: Jadi penulis yang kemudian karyanya diangkat ke layar lebar, lalu disitu gue nulis skenarionya, belajar dan belajar dari Sutradara, sampai akhirnya gue bisa menjadi Sutradara film. Kemudian gue terjun ke dunia Youtube, menjadi Content Creator yang setiap karya nya memberikan manfaat positif bagi banyak orang.

Langkah pertama untuk mencapai semua tujuan itu: pilih kuliah. Gue akhirnya tau harus ke mana, dengan sepenuh hati gue memilih jurusan film dan televisi. Saat inilah gue dihadapkan dengan banyak kenyataan buruk yang harus gue tanggung resikonya. Di daerah gue, Bali, gak ada kuliah yang mempunyai jurusan televisi dan film. Kalo ada pun, percuma, gak akan berkembang. Setelah lulusnya gue gak tau mau kerja apa. Lowongan kerja lulusan film di Bali kayaknya langka banget.

Demi kemajuan di masa depan, gue tau, gue harus keluar dari zona nyaman. Meskipun gue agak takut juga sih ngerantau, gak tau gimana nasib nya di sana. Kemampuan bertahan hidup gue sangat rendah. Masak telor mungkin bisa kebakaran, abis ngangkat galon perlu tidur seharian karena kelelahan. Keinginan merantau ini gue sampaikan kepada orang tua gue. Mereka kaget, bahkan gak setuju. Mereka bilang hidup di luar Bali, di luar jangkauan keluarga itu berat. Hidup sendiri itu susah. Apalagi anaknya kayak gue, membiarkannya merantau ibarat melepas anaknya di hutan rimba.

Kebetulan Kampus yang gue incar berada di Jogjakarta. Setelah gue check google maps, jaraknya ribuan kilometer dari rumah gue. Sejujurnya gue lumayan takut ngerantau, banyak hal yang gue takutin di sana. Yang pertama gue takut kalo sewaktu-waktu sakit di sana, siapa yang bisa nolong? Gue gak mungkin pulang ke rumah naik gojek, gak mungkin juga nyuruh keluarga buat dateng ke tempat gue. Itu berarti gue harus mandiri, gue harus belajar dari sekarang, untuk ngesot nyariin Dokter.

Gue juga takut sama lingkungannya yang beda. Katanya lingkungan di sana itu kejam, sering terjadi kejahatan. Misalnya, perampokan. Kalo itu menimpa gue di sana, kepada siapa gue lapor? Gue gak tau di mana kantor polisi di sana. Nelepon polisi? Gue cuma inget nomer 14045. Ditodong penjahat?
Gue gak pernah ikut beladiri mana pun, yang gue tau cara melawannya: masukin kelereng ke lobang hidungnya. Cara ini cukup ampuh membuat penjahat sesak napas, cara ini beresiko, mungkin sebelum mendekat aja badan gue udah penuh luka tusuk. Dari semua kejahatan yang ada, yang paling gue takutin cuma satu: diperkosa sama orang.

Kampus yang gue pilih yaitu Institut Seni Indonesia yang berada di Jogja. Di Bali ada sih, tapi gak ada jurusannya. Sebenarnya gue kepengen kuliah di Institut Kesenian Jakarta, namun gak diijinin Orang Tua. Kata mereka, Ibukota itu kejam. Awalnya orang tua gak setuju soal gue ngambil jurusan film. Banyak temen Orang Tua gue yang hidupnya pas-pasan karena ngambil perfilman. Gue sendiri sebenernya juga mikir, Sehabis tamat, mau dimana gue kerja? Pasti susah.



Apalagi gue sendiri melihat contoh nyata lulusan anak seni yang ngambil perfilman kayak gimana, tubuhnya tatooan, rambutnya gak beraturan, dan bau ketek. Dipenuhi rasa takut, tapi gue tetep keras kepala. Orang tua menyuruh gue untuk kuliah di pariwisata, biar cepet kerja. Gue menolak, bagi gue kuliah di jurusan itu gak akan membuat hidup gue jauh jadi lebih baik. Gue pengen mengubah nasib, menjadi banyak dikenal orang, menjadi inspirasi orang, bahkan ingin dicintai banyak orang.

Emang sih cepet kerja itu enak, dapet uang bisa dipake buat apa aja. Bagaimana pun gue selalu keras kepala, kukuh sama pendirian. Gue tau, menjadi penulis itu prosesnya lama, akan banyak penolakan yang bakal menghampiri gue, tapi gue udah siap secara mental untuk mengatasi itu semua. Memilih kuliah sendiri, berarti gue harus bertanggung jawab atas apa yang udah gue pilih. Harus serius, gak boleh main-main.

Resiko terburuk dari memilih proses panjang menjadi penulis adalah gue gak bisa dapet uang secara cepat. Jumlahnya juga gak pasti. Gak bisa diprediksi. Hal terberat yang gue rasakan sekarang, pengen punya pacar. Jujur aja dari lubuk hati terdalam, setiap hari gue mendambakan seseorang yang mau ngesupport gue, bikin gue bahagia dan nyaman. Tapi, gue sadar, cinta sekarang butuh uang. Dengan keadaan seperti ini gue takut gak bisa ngasih apa-apa ke orang yang gue sayang. Takut gak bisa bikin dia bahagia.

Yang paling penting, sebagai anak gue harus bisa menjadi tulang punggung nantinya untuk keluarga. Gue bertekad untuk ngebahagiaiin orang tua, keluarga, dan siapa pun yang gue sayang. Demi mewujudkan itu semua, gue mesti bisa masuk ISI Jogja. Ada beberapa tes yang harus gue lalui melalui jalur SBMPTN, tes tulis dan tes keterampilan. Untuk tes tulis sendiri gue gak ngerti apa pun, bingung apa yang harus gue pelajarin. Tes keterampilan? Gue disuruh untuk Story telling dan Menggambar Sinematik. Bagian terberat dari semua tes: semuanya. Menggambar? Gue cuma bisa buat pegunungan. StoryTelling? Pas pelajarannya aja gue bolos mulu. Gue menganggap bahwa test jauh ke Jogja ini mungkin hanya akan menjadi liburan aja.



Hanya ada satu jalan yang gue bisa tempuh: pasrah. Apa pun yang terjadi pas tes nanti, terjadilah.

Tes menyisakan beberapa hari lagi, hebatnya gue belum punya persiapan sama sekali. Belajar dikit aja belum. Bahkan gue gak tau apa materinya. Kalo materinya semua ngulang dari SD, tetep aja gue gak bakal bisa jawab. Di saat seperti ini muncul ketakutan besar: apa gue bisa hidup di sana? Jauh dari semua itu berat. Keraguan pun muncul, terkadang ketakutan mengalahkan kekuatan. Gue tau gue takut, tetapi gue harus ngelawan itu semua. Ketakutan berikutnya yaitu kesepian. Sendiri di sana tanpa kenal siapa pun itu gak enak. Gak ada lagi yang bisa dimintain duit, ngasih makan gratis, dan yang peduli.

Menjelang hari yang makin dekat, banyak keraguan yang muncul. Bisakah gue dapet kerjaan yang bagus setelah selesai kuliah? Gue banyak melihat contoh nyata dari orang terdekat yang gagal karena jurusan yang gue pilih. Dari jurusan Film malah mereka terlempar ke banyak bidang, contohnya jadi pegawai konter hape.

Yah, semoga aja gue bisa test dengan lancar, terus keterima. Semoga juga gue bisa bertahan hidup di sana dengan segala cara. Kayaknya itu aja dulu curhat dari gue, soal keresahan selama ini. Memilih kampus dan menentukan masa depan itu emang perlu pertimbangan matang. Gak bisa ditentukan satu hari. Butuh waktu banyak.

Oke thanks for read, see u guys !



















Minggu, 29 April 2018

Manusia Norak Sewaktu Nonton Film

Menonton film bisa membuat orang terhibur, tapi bisa juga membuat yang nonton menjadi norak. Gue sering menemukan orang yang bereaksi berlebihan terhadap film. Contoh ekstrimnya orang yang suka nonton sinetron berjumlah ribuan episode, sekali kelewatan, dia marah. Lalu stres, Dia membantai seluruh keluarganya.



 Belakangan ini muncul banyak film-film bagus yang menarik perhatian, yang memunculkan banyak orang norak. Gak tau apakah itu pertama kalinya mereka nonton atau emang nyari perhatian orang lain. Gue akan menjelaskan orang seperti apa yang norak ketika nonton film

1. Tukang tebar spoiler

Sebelum dilanjut lagi, gue takut ada yang gak ngerti apa arti spoiler. Jadi gue akan menjelaskan, pada kalian, wahai kaum yang kelamaan dipenjara di bawah tanah.

Tukang spoiler adalah jenis manusia yang otaknya entah berada di kepala atau di bagian ketek. Manusia berotak di ketek inilah yang sehabis nonton film dengan bangganya memberi tahu jalan cerita pada orang yang belum nonton. Jalan cerita pun akan ketebak.



 Misalnya, di suatu film diceritakan Superman adalah tokoh yang sangat kuat.  Tubuhnya mampu menahan segala jenis peluru, kecuali peluru airsoftguns. Dia pernah trauma karena pada masa kecilnya pernah menjadi korban kekerasan oleh ayahnya menggunakan airsofguns. Diceritakan juga Superman ini tahan segala gempuran. Seperti dilindes becak, ditabrak tukang anter galon aqua, dan masih banyak lagi.

Tapi di akhir Superman mati karena digrepe massal oleh cowok yang baru dikenalnya dari media sosial. Di bagian akhir inilah biasanya para tukang spoiler akan membocorkan kepada yang belum nonton. Kalo udah tau gimana ceritanya, otomatis sensasi nonton akan beda. Ibaratnya kayak elo dibisikin begini sama temen, "Bro, pacar lo tuh kalo main bisa tahan 23 jam, baru aja 5 menit yang lalu gue selesai sama dia. Coba deh lo buktiin pas lo nikah nanti."

Para tukang spoiler ini biasa beraksi di dunia maya, dan di dunia nyata (cukup jarang, biasanya sehabis ngespoiler, dia akan dibakar massa) Gue sendiri gak ngerti apa bagusnya jadi tukang spoiler. Apa itu bisa dibanggakan? Apa itu biar dibilang keren? Apa bisa menaikkan status sosial lo di masyarakat?

Entahlah, sama sekali gue gak ngerti. Gak ada bagusnya sedikitpun. Sampai suatu ketika gue menyadari, dulu gue mantan tukang spoiler. Ya, pernah. Misalnya video lucu sepak bola, gue beramai-ramai nonton sama temen. Kebetulan video itu pernah gue tonton. Jadi gue kasih tau ke temen kapan lucunya, memberi intruksi seakan gue expert. "Tuh, bentar lagi tanknya bakal masuk ke stadion."

2. Orang yang nonton karena ngikut tren

Fenomena nonton ngikutin temen, ngikutin orang lain, saat ini makin merajalela. Belakangan ini, ada film superhero yang paling ditunggu karena banyak hero yang akan tampil. Nah, banyaknya antusiasme ini bikin gue ragu. Apakah semuanya tau jalan ceritanya? Gambaran besarnya?



Misalnya lo lagi nonton Iron Man sama temen lo yang ngikutin lo nonton bilang, "Loh, kok Batmannya gak ada?" Jelas ini keliru besar. Apalagi kalo lo nonton film perang, terus temen lo bilang, "Ah film apaan sih ini, gak jelas, mending gue nonton pesbuker. Yang paling parah kalo lagi nonton film harry potter, lalu temen lo yang gak ngerti bilang, "Kapan nih limbad muncul?"

Cari tau dulu lah gimana gambarannya ceritanya, jangan asal nonton ngikutin tren. Gaul boleh, goblok, yaudah.

3. Peramal

Kalo jenis manusia yang begini juga cukup ngeselin. Filmnya belum habis, atau lagi di pertengahan, udah main nebak aja. Kalo film biru, oke lah, lo bisa nebak endingnya. Tapi kalo film lain? Gak gampang.

Mending kalo ngeramalnya dengan berdasarkan alasan logis, lah kebanyakan nyerocos dengan sotoy. " Ini bakal mati nih!" "Tuh penjahat bakal mati disunat mertuanya!" "Wah lembaga sensor menyatakan, filmnya dah mau selesai nih!"

4. Narsiser (Najiser)

Tipe yang keempat udah lumayan banyak sih, bahkan selalu gue temui. Dari yang gak gue kenal, sampai temen sendiri. Orang norak jenis ini biasanya sebelum nonton, atau pas lagi nonton bakal ngeluarin hape (Iyalah! Masa galon?) Lalu ngupdate di sosial media mereka. Seakan kalo dianalisis lebih dalam arti update mereka itu 'Gue sekarang lagi bahagia! Lo pasti susah mulu ya, nyet?'



Update mereka bervariasi, mulai dari foto (okelah) diisi aksesoris jam berapa mereka lagi nonton. Foto ticket sebelum nonton. Foto tangan yang lagi bergandengan (Ini norak, tapi bisa kemungkinan itu minjem tangan orang lain), atau foto dengan stiker yang makna nya 'Sini nyet! Jangan nunggu bajakannya!'

Yang paling parah, dan paling norak, ngerekam apa yang mereka tonton. Kalo film bukan bioskop sih ya gak masalah, lah ini film bioskop baru tayang udah main rekam. Gue gak tau apa tujuan dari ngerekam itu.



Apa mereka ngerekam buat dilanjutin nonton di rumah? Apa mereka mau ngebantu temen mereka yang lagi kesusahan, yang gak bisa nonton?

Gue gak ngerti kenapa mereka ngerekam film bioskop, padahal udah jelas tindakan ngerekam bisa dipenjara. Tapi dari semua yang gue lihat ngerekam di media sosial mereka, gak ada satupun yang masuk penjara. Entah berapa banyak  kalo semua manusia begitu ditangkep satu persatu.

Intinya, narsis boleh, tapi jangan ngelanggar hukum. Kalo gue jadi mereka, mungkin gue akan merekam, lalu gue pamerin ke divisi humas polri.




Itu aja yang mau gue tulis berdasarkan keresahan gue belakangan ini yang gak ada bayarin nonton (lho?) Gue harap orang norak akan berkurang. Buat orang norak yang marah karena baca tulisan gue di atas, mohon maaf, kembalilah ke jalan yang benar. Buat kalian yang enggak marah, makasih, berarti kalian masih bisa diselamatkan.


Ok, itu aja yang mau gue omongin. Makasih udah mau baca, walau gak ada manfaatnya. See u !

For pic: thx to google


Selasa, 03 April 2018

Neraka itu Kamar Mandi Sekolah

Sebagai seorang murid, sekaligus seorang manusia normal. Gue pernah merasakan kebelet pup, bahkan sampai sekarang. Dan, semua orang juga pasti sama. Tapi gue sering mengalami kebelet disaat yang salah, terutama saat gak lagi di rumah. Satu hal yang paling gue takuti yaitu, pup di tempat lain. Bagi gue, tiada tempat ternyaman untuk pup selain di rumah sendiri. Selain nyaman, pup di rumah itu sangat aman, terjamin keselamatan dan tentunya privasi.


Sewaktu gue SD, gue paling takut kebelet pup di sekolah. Gue mengalami trauma berat. Gue sempat melihat pup berserakan di lantai, celana dalam yang digantung, dan genangan air di lantai yang ternyata pipis manusia. Sontak sehabis kejadian itu gue gak berani pup di sekolah.



Kalau mendadak gue kebelet, dan gak bisa ditahan. Maka, gue tetap bersikeras untuk tidak pup di sekolah. Gue akan langsung menuju kantor guru, minjem telepon, nelpon orang di rumah. Bukan untuk minta dukungan biar pup gue lancar, tapi minta jemput, biar pup di rumah.

Pernah kejadian gue gak bisa nahan lagi, pas nelepon, pup gue jatuh, mendarat di celana dalam. Saat itu gue berharap tetap seimbang, gak jatuh ke lantai. Gue panik, gue telepon terus. Gue mencoba menahan, disaat itu gue mendadak jadi orang yang sensitif, galak, dan nyebelin. Setiap temen yang mau ngedeket, langsung gue usir. Ini semua gue lakukan untuk melindungi diri,  menyelamatkan harga diri, dan tentunya agar pup tidak mendarat di lantai.

Nungguin dijemput itu sangat deg-degan, apalagi yang jemput. Mungkin di jalan udah ngidupin sirine. Iya, berasa dijemput ambulan. Padahal, cuma pengen berak di rumah. Di rumah memang sangat aman, nyaman, damai. Maka dari itu hal-hal yang gue takutkan di kamar mandi umum itu seperti:

1. Gak ada sabun
Menurut gue cebok tanpa sabun itu gak nyaman banget. Hina. Tangan yang bekas cebok, enggak dikasi sabun. Bayangin aja, kalo sampai nyentuh orang lain, apalagi kalau jadi pedagang makanan.
Gue ngebayangin gimana mereka gak cuci tangan pake sabun, masih bau, megang lauk pake tangan. Sedap.



Maka dari itu gue takut kalau gak ada sabun. Rasanya gak terbiasa aja. Cebok tanpa sabun itu bikin risih, kayak gak bersih gitu. Gue heran ngeliat orang luar negeri, biasa cebok tanpa sabun, cuma pakai tisu. Dibilang kreatif, iya. Dibilang bego, bisa juga. Sampai sekarang gue gak ngerti kenapa di kamar mandi sekolah jarang ada sabunnya. Apa harga sabun terlalu mahal? 

Kalau gue kebelet, gue mendadak menjadi pemilih. Menjadi pemburu kamar mandi. Nyari yang ada sabunnya. Tapi kebanyakan kamar mandi sekolah memang gak ada sabunnya. Mungkin takut disalahgunakan, mungkin dimakan, dipakai buat..., bahkan mungkin takut digondol maling.

2. Gak bisa dikunci
Mungkin banyak orang setuju, juga beranggapan sama bahwa kamar mandi yang gak bisa dikunci itu mengerikan. Apalagi di kamar mandi sekolah yang lumayan ramai. Kalo sepi sih enggak masalah, mau dibuka lebar lebar juga aman, mau pup sambil yoga juga gak ada yang tau. Tapi gimana kalau kamar mandi itu rame? Itulah yang gue takutkan. Gue punya beberapa pengalaman serem di kamar mandi umum yang gak bisa dikunci. Tempatnya lumayan rame, banyak yang ngantri. Waktu itu gue pengen pipis, tapi, pintunya kagak bisa dikunci. Terpaksa, demi menaati norma kesusilaan, satu tangan memegang titit, satu lagi buat menahan pintu agar gak kebuka.



Mungkin di luar sana orang-orang masih pengertian. Sekali mencoba buka pintu, kalo udah enggak bisa kebuka, mereka beranggapan ada orang di dalem kamar mandi. Beda  dengan di sekolah, sekali gak kebuka, pasti bakal dipaksa, meneror dengan cara menggedor-gedor terus. Yang di dalem, cuma bisa berdoa, berharap cobaan akan segera berakhir. Dan, yang di dalem cuma bisa pasrah menahan gempuran, kalau sedang pipis bisa pakai tangan satunya, atau kalau udah jago mengarahkan tepat sasaran, bisa pake dua tangan menahan pintu. Kalau pup, yaudah pake kedua kaki!

Gue belajar banyak hal, misalnya di kamar mandi sekolah, gue belajar bahwa jika ingin pup, sebaiknya jangan kasi tau teman. Apalagi memberi tau lokasi. Itu bahaya! Selalu jagalah privasi, jangan ngajak-ngajak, jangan juga mengundang untuk ikut bareng satu tempat. 

3. Kotor

Emang yang namanya kamar mandi pasti kotor. Terutama kamar mandi sekolah, gak ada yang bersih banget. Dan gak mungkin ada kamar mandi yang nyaman dipake buat tidur tiap hari. Tapi, kotor selalu ada batasnya. Seperti kalo masuk lantainya kotor, ada bekas-bekas kaki. Tapi, kalo baru masuk udah ada pup berserakan di lantai itu, sih, udah gak wajar. Kadang ada kamar mandi yang keliatannya bersih, semakin masuk ke dalam, ternyata baknya penuh air kencing. Bahkan dulu pas gue SD pernah nemuin celana dalam yang digantung. Gak ngerti apa faedah dari ngelepas celana dalam, terus ditinggalin gitu aja. Ritual bikin kaya raya?

4. Air habis

Ini juga jadi problem paling serem dari kamar mandi di sekolahan. Kadang kalau apes, nemu aja kamar mandi yang airnya mati. Misalnya abis pup, terus air mati. Kalo gak disiram, takut dikucilkan masyarakat. Mau nyiram, gimana caranya? Apa mesti ditiup pake mulut?



Emang repot dan ngeselin kalo udah nemu kamar mandi kayak gitu. Soalnya enggak bisa diakalin. Cara ekstrim yang mungkin bisa dicoba: Buka pintu, kabur secepat mungkin.

5. Celah buat ngintip

Di sekolah gue ada kamar mandi yang lumayan serem buat digunakan sebagai tempat membuang kotoran. Tempatnya sih gak jorok, pintu bisa dikunci, air ada, tapi atap gak ada. Jadi cuma dihalangi tembok gitu, atasnya terbuka. Pintu berasa gak ada kegunaannya. Tinggal manjat, kelihatan deh yang lagi di dalam. 

Kamar mandi ini sering memakan korban, sayangnya korbannya hanya cowok. Temen gue pernah menjadi korban. Lagi pup, dari atas direkam. Pas noleh ke atas, dia kaget, dia syok. Untungnya tidak pingsan dalam keadaan lagi pup.

Berdasarkan alasan itu, gue selalu menghindari melakukan kegiatan pembuangan kotoran di kamar mandi sekolah. Kalo sekedar pipis, ya gak masalah. 

Itu aja deh yang mau gue tulis. Semoga kalian semua yang membaca bisa lebih waspada lagi. Jangan sampai kalian jadi korban, atau malah jadi pelaku. Buat kalian yang kamar mandi di sekolah nya memenuhi semua kriteria di atas, ya udah, pindah sekolah aja! Kalau suatu waktu terjadi hal yang gak diinginkan, pake cara gue aja. Telpon ke rumah, minta jemput.

Oke itu aja deh yang mau gue omongin. Semoga ada manfaatnya. Kalian bisa jadi lebih waspada lagi dalan memilih kamar mandi yang baik untuk hidup kalian. Yang bisa ngertiin kalian, bisa bikin kalian nyaman.


See u next time!

Bangga Punya Progress

Gue percaya setiap orang pasti akan berusaha untuk menciptakan progress dalam hidup mereka. Itulah yang gue lakukan sekarang.

Belakangan ini gue lagi nulis cerita baru yang lumayan panjang. Gue menargetkan 200 halaman lebih. Gue juga berharap bisa selesai dalam waktu seminggu. Gila, sih, berarti sepanjang hari gue harus nulis.  Dari pagi sampai pagi. Berarti siklus hidup gue bakal jadi gak normal. Mandi? Motong waktu. Makan? Buang waktu beberapa menit. Kalau dipake nulis bisa dapet beberapa paragraf. Pup? Bisa di kamar mandi sambil nulis.

Yah... itu rencana gue. Kenyataannya berbeda dari rencana. Beberapa menit gue nulis... cuma dapet beberapa paragraf. Istirahat bentar main game, eh ketagihan. Selesai main, nulis lagi, eh ada pesan masuk. Gue balesin terus, gak jadi nulis. Pas gak ada gangguan, eh gue ngantuk. Tidur dulu, abis itu baru nulis. Selesai bangun, mau nulis, eh temen ngajak main game. Yaudah gue main. Akhirnya sehari gue cuma bisa nulis selama 10 menit, dan baru dapet 5 kalimat.

Cerita yang ditargetkan seminggu 200 
halaman pun baru jadi 30 halaman.

Pas lagi iseng-iseng bongkar file-file word di hape, gue menemukan banyak cerita yang gue tulis, tapi gak selesai. Ada yang baru tiga halaman, udah gak gue lanjutin. Ada yang udah banyak halaman, tapi abis itu gue gak tau apa kelanjutannya. Ada yang baru gue baca lagi, gila, sampah banget.
Saking banyaknya dokumen word di hape, satu persatu gue periksa. Inilah semuanya:



Gambar di atas ini cerita yang entah kenapa gue bisa niat banget nulis sampe udah 20 halaman lebih. Saking niatnya sampai gue minta pendapat temen cewek yang emang hobi membaca. Gue ngeprint sebanyak 20 halaman, seharga 10 ribu, gue kasih ke dia, biar dikomentarin. Kemudian dia bilang, "Kamu harus banyak baca novel lagi. Mau aku pinjemin?" Abis mendengar komentarnya, gue sadar, dia gak enak untuk bilang tulisan gue sampah.

Abis itu gue gak pernah minta pendapat dia lagi, lost contact. Dan, gak enaknya, uang gue gak diganti.

Entah apa yang ada di pikiran gue waktu itu bisa nulis cerita sihir-sihir. Cerita yang gue buat malahan jadi kayak ngejiplak Harry Potter secara halus.

Cerita gue yang absurd

Itu cerita tentang... Ah gak tau. Kayaknya tiga orang cowok menyimpang yang main di hutan.

Cerita absurd ketiga

Ini juga cerita apaaan ya? Gue lupa. Kalo diinget-inget ini, adik-kakak kandung yang terjebak zona adik-kakak.

Cerita absurd yang gagal

Ini... cerita yang mau gue selesein. Tapi, ah, ada cerita ide lain lebih bagus.

Add caption

Yang di atas sih, astaga. Salah upload. Kalo gak salah ini waktu dulu gue masih sering galau semasa SMP. Karena gak punya temen curhat, dan gak punya temen juga, jadinya hanya microsoft word yang jadi tempat pelampiasan gue. Gue masih ingat dokumen ini sampai gue kasih password, gue lindungi dengan ketat, demi tidak ketahuan bokap yang sering utak-atik komputer.




Dokumen word di atas mungkin isinya terlalu memalukan. Itu kata-kata yang gue sengaja tulis, buat nembak cewek. Bukan buat gue hapalin, terus ngungkapin secara langsung. Gue gak mau ribet. Jadi gue tulis, terus copy, kirim ke dia. Selesai. Hasilnya gue ditolak. Gak ribet. Dari jam 2 pagi gue mengetik kalimat demi kalimat sampai jam 4 pagi. Pas gue kirim, langsung gue tidur. Besoknya gue bangun, kena tolak.

Nah, berhubung banyaknya tulisan yang udah gue buat. Gue pengen bener-bener serius untuk nulis sampai selesai. Dari semua tulisan yang udah gue buat, memang gak sempurna. Setidaknya gue ngerasa gaya nulis gue jadi beda.

Gue makin serius untuk nulis, maka gue kepikiran untuk membuat cerita yang terdiri dari 10 bab lebih. Semua berisi tentang pengalaman-pengalaman gue dari SD, SMP, sampai sekarang SMA.


Empat belas bab di atas semua berdasarkan pengalaman gue. Ada temen yang gue usir karena gak mau nurut, ada kisah gue berantem pake gaya kera, ada kisah gue dibilang bencong, ada cerita temen gue yang mau pdkt tapi cuma berani ngumpet di motor. Dan masih banyak lagi. Gue berharap apa yang gue tulis bisa menghibur banyak orang.


Gambar di atas salah satu contoh tulisan di bab Pemuda Pemuja Paha Jejepangan.

Total, sekarang udah hampir 40 halaman. Semoga aja cepet selesai. Mungkin gak akan gue jual, just for fun aja.

Oke deh itu aja yang mau gue tulis. Gak jelas, sih. Gak penting juga. Oke see u next time!