Kamis, 02 Januari 2020

Ketika Kuliah Salah Jurusan

Sekarang gue percaya apa kata orang, kehidupan setelah lulus SMA memang keras. Gue gak tau tujuan dan mau ngapain setelah itu. Gue berpikir untuk kuliah perfilman, namun gak ada jurusannya di Bali. Cadangan jurusan lain juga gue gak tau mau apa. Karena gak mau salah pilih jurusan dan berakhir jadi mahasiswa 14 semester, gue memutuskan untuk break setahun. Break setahun pun gue gak tau mau ngapain, akhirnya gue menghabiskan setahun menjadi anak no life.

Break setahun itu ada gak enaknya, kadang malu kalo ke rumah temen. Karena orang tua mereka suka nanya sesuatu yang menyinggung gue sebagai anak no life,misalnya, "Kamu kuliah di mana? " Gue suka bingung harus ngerespon kayak gimana, gak mungkin juga gue jawab, "Pengangguran Tante. Anak tante kok enggak?"

Gak enaknya juga temen-temen pada kuliah dan sibuk sama dunia masing-masing. Suatu siang waktu gue gak ada aktivitas (selalu) gue ketemuan dengan salah satu temen baik waktu SMA. Orangnya tampak senang dan bahagia menjalani kuliahnya. Dia sendiri memilih jurusan kitchen bagian memasak selama 2 tahun di salah satu kampus yang gak gue tau keberadaannya di muka bumi ini. Menurut gue jurusan kitchen itu keras, karena kerjanya penuh dengan tekanan dan harus cepat sigap.

Sementara temen gue ini tiap ada kegiatan di sekolah pasti lari kabur ke parkiran, atau sibuk tidur seharian di kamarnya. Konon juga kata temen gue yang lain, di rumahnya orang tua atau dia juga gak pernah masak, bahkan sampai mie sekali pun. Dan kulkasnya juga kosong, cuma isi jeruk nipis. Gue sendiri sebagai teman yang baik, agak kaget sama jurusan yang dia pilih. Karena terakhir kali gue liat dia masak, hasilnya jadi mie goreng garam (masak mie pake garam setengah bungkus)

Walau begitu, gue yakin dia udah berubah. Sekarang pasti dia jauh lebih baik lagi menjadi manusia. Dia suka bercerita tentang kuliahnya yang menyenangkan karena cepet pulangnya, jadi dia bisa tidur sampai besoknya. Atau semenjak kuliah, dia bisa dapet pacar yang baik hati dan tajir.

Mendengar ceritanya gue yakin dia pasti bener pilih jurusan. Maka dari itu gue juga harus bener. Beberapa bulan sebelum test masuk kampus, gue memutuskan untuk masuk jurusan managemen. Ikut testnya dengan semangat, dan ketika ngerjain soal ekonomi gak bisa gue jawab satu pun. Dua minggu sebelum ospek gue pindah jurusan, ke ilmu hukum. Semua demi menghindar bertemu angka dan hitungan.

Mendekati masa ngampus, temen gue ini ngajak gue ketemuan di suatu tempat nongkrong. Dia mulai mengeluh. Dia bercerita kalo sekarang dia sedang mengalami masa yang berat dalam hidupnya. Masa training. Kampusnya mewajibkan setiap mahasiswa untuk training di suatu hotel selama 6 bulan. Dari pagi sampai sore selama 9 jam, atau dapat shift nya siang sampai malem. Tentunya ini masa berat karena mengurangi jam tidurnya dan santainya.

Katanya training nya itu berat, udah kayak orang kerja. Dimarah, dibentak, disuruh cepet-cepet. Misalnya dia pernah dimarah karena motong bahan makanan yang lama, karena motongnya mesti isi ukuran seberapa. Apalagi udah penuh tekanan, dia cuma dibayar 500 ribu sebulannya. Dia mulai gak betah.

Saat itu gue bertanya, "Sekarang lo bisa masak apa aja? " Dan dia menjawab dengan mudahnya, "Gak tau." Itu semua karena sehabis mendapat ilmu, dia gak bisa mempraktekkan nya kembali di rumah karena di rumahnya memang gak pernah ada aktivitas memasak sekalipun. Mungkin juga karena gak ada bahan makanan di kulkasnya, cuma ada jeruk nipis.

Selama ngobrol di chat pun mulai muncul keluhan dari dia. Katanya dia mulai bolos training. Alasannya pun kampret dan sisi lain juga menyedihkan: pulang kampung karena omnya meninggal. Pas gue tanya kebenarannya, dia bilang palsu.

Seiring berjalannya hari dia makin gak kuat, karena dia gak punya temen (pulang sekolah lari ke parkiran pulang) maka gue yang dichat terus, dan karena temen maka gue ladenin aja. Ketidakbetahannya itu pun mulai mengusik hidup gue.

Suatu siang dia minta tolong sesuatu yang penting sama gue, yaitu bolosin dia training. Karena gue kasian sama dia, yaudah gue suruh dia dateng ke rumah gue. Dia dateng beneran ke rumah gue yang jaraknya jauh banget, semua demi bolos training. Gue pun menolong dia, dan ngechat salah satu yang mempunyai kedudukan di dapur hotelnya, seperti ini:



Demi bolos, dia rela mengatakan dirinya sedang celaka diserempet mobil. Kata orang, apa pun yang kita katakan adalah doa. Sungguh pembolos yang extreme dan garis keras. Gak lama bosnya pun menjawab, pas gue liat, gila ternyata bosnya ramah. Ternyata gampang juga ya bolos kerja. Pas gue buka chatnya, ternyata gini:




SURAT DC. Gue sendiri gak tau apa surat dc, pas dikasi tau ternyata itu surat ijin sakit buat yang kerja. Mampus. Kalo dia gak ngasih surat dc, pasti bakal disangka sakit bohongan. Maka, mau gak mau temen gue pergi ke dokter untuk membuat surat dokter palsu. Masalahnya juga, gue diajak sama dia buat nyari surat dokter. Karena gue nantinya mau download di tempat nongkrong, maka gue pun nemenin dia nyari surat dokter. Tapi sebelum itu, ada masalah berat. Mau pake alasan apa lagi pas ditanya dokter nanti, "Sakit apa?"Gak mungkin juga dijawab, " Bolos saya kambuh, dok."

Mau bilang kecelakaan pun juga gak bisa, karena gak ada bukti luka sehabis kecelakaan. Temen gue waktu itu punya niat yang ekstrim, nyuruh gue mukulin tangannya sampai bonyok dan biru, demi mendapat kepercayaan dokter. Tapi gak jadi, karena gue cuma jago nyakar orang. Maka dari itu kita saling bertukar pilihan, seperti sakit ketimpa penjor, ditabrak semut. Pilihan terakhir pun yaitu alasan sejuta orang: diare.

Gue dan temen berangkat ke salah satu klinik yang cukup terjangkau. Terakhir kali gue minta surat sehat, cuma bayar 50. Pas temen gue minta surat sakit, bayar 70 ribu. Temen gue mulai berakting, mukanya udah kayak orang sekarat, padahal cuma diare. Pas diperiksa gue kaget denger diagnosa dokternya, "Bagus! Perutnya masih berfungsi ini."

Cuma demi bolos training, temen gue mengeluarkan duit 70 ribu. Sungguh pembodohan. Gue yakin dia pasti bakal kapok dan menyesal. Empat hari kemudian dia dateng lagi ke rumah gue, minta dibolosin lagi.
Gobloknya juga gue malah ngebantu dia, seperti ini alasannya:




Jujur gue ketawa, gak nyangka, karena dia mecahin piring. Makin lama dia training, mungkin bakal banyak lagi yang pecah. Entah apa yang terjadi berikutnya. Tapi kali ini gue gak bantu dia ke dokter, karena kesiangan bangun. Pas gue buka HP dia bilang kalo dia mengeluarkan duit sebanyak 120 ribu cuma demi nyari surat ijin sakit. Pas gue tanya kenapa mahal, dia jawab, "Sama obatnya juga."

Goblok abis! Protes karena klinik rekomendasi gue mahal 70 ribu, dia nyari sendiri, habis 130 ribu. Jadi total dia ngeluarin uang 200 ribu cuma buat surat ijin sakit kerja. Pembolos terhebat. Hari demi hari berlalu dan gue gak tau apa dia bakal bolos lagi atau enggak.

Yang jelas tiap kali ketemu dia, gue ngerasa kasian. Pasti ada aja luka-luka di beberapa bagian tangannya. Misalnya tangannya melepuh kena minyak panas, tangan berdarah salah motong, dan mungkin selanjutnya sekujur tubuhnya kena goresan pisau.

Suatu hari dia bilang ke gue, kalo dia gak mau lagi dateng training. Itu berarti kalo dia gak training, maka bakal gak lulus kuliah. Katanya, udah kerjanya dibentak, gajinya gak seberapa. Gue bertanya kepada temen yang lain kebetulan juga pernah training, katanya dia gak dibayar sama sekali dan sekarang udah lulus. Sementara temen gue ini udah dibayar, masih mengeluh.

Temen gue memutuskan berhenti karena ngerasa bukan passionnya. Atau salah jurusan. Berhenti tanpa memberitahu orang tuanya. Gue gak bisa bayangin bagaimana reaksi dan kecewanya orang tuanya pas tau anaknya kayak gitu. Dan gue gak bisa bayangin seberapa gobloknya gue ngebantu temen ngelakuin hal goblok. Temen gue ini berhenti training, karena katanya dia udah mulai kerja. Jaga warnet. Katanya kerjanya santai, digaji sejuta. Sejujurnya gue bingung dengan pemikirannya. Kalo dia berusaha lanjut sampai lulus, bisa aja dia dapet kerjaan di kitchen yang gajinya sebanding. Dia malah meninggalkan kuliah yang tinggal setahun lagi, demi menjaga warnet yang digaji cuma sejuta.



Dia kerja di warnet deket rumahnya, sementara orang tuanya berpikir dia masih kuliah. Jadi dia berangkat pagi hari memakai celana panjang, sepahtu pantopel, demi tidak menimbulkan kecurigaan dia tampil persis orang kerja. Padahal ke warnet. Dia merahasiakan segalanya ke orang tua, bahkan tempat kerjanya pun juga dirahasiakan. Gue gak bisa bayangin kalo suatu hari Bokapnya mau ngeprint, terus melihat anaknya yang ngelayanin. Temen gue bilang, "Ini lagi kuliah masak, di cooking dash!"

Dia bilang ke gue kalo dia berhenti biar ada waktu untuk ngerjain project youtube bareng gue. Di sisi lain gue ragu, orang kayak gini bisa diajak kerja gak ya? Gue takut waktu dapet penghasilan AdSense cuma 2000, dia berhenti, lalu bilang, "Mending jaga warnet!"

Suatu hari, dia memutuskan hal gila, bilang ke orang tuanya kalo berhenti kuliah. Entah apa respon orangtuanya, gue gak bisa membayangkan. Dan gue gak bisa membayangkan lagi ketika gue udah duduk di teras rumahnya, ngebantu dia buat ngomong sama orang tuanya. Pada nyatanya gue cuma diem minum teh kotak, menunggu temen gue ngomong soal ini ke orang tuanya di kamar. Entah kenapa gue malah ikut campur begini. Goblok abis. Keberadaan gue malah meyakinkan orang tuanya kalo gue yang menjadi penyebab ini semua.

Pikiran gue mengawang, membayangkan ada baku hantam di rumah, diamuk, atau diusir lalu lari dari rumah naik motor. Pas dia keluar, ternyata badannya masih utuh tanpa kekurangan satu pun. Dia berkata, "Orang tua ku juga sebenernya gak setuju aku masuk jurusan kitchen. Tapi diliat aku kayak mau dan seneng."

Anjrit! FREAK NIH ORANG! Kalo gak bisa kenapa gak nolak aja? Gue gak ngerti sama temen gue dan keluarganya. Gak pernah atau jarang yang namanya komunikasi. Gue gak bisa ngebayangin kesehariannya mereka gimana. Mungkin waktu hari libur semua di rumah, sedang nonton TV, dan berempat diam sepanjang hari tanpa ngomong.

Setelah itu temen gue terus melanjutkan hidup. Kerja di warnet untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan katanya dia udah gak dikasi uang lagi, buat makan sekali pun gak dikasi. Uang sehari-hari yang didapat dari warnet, cuma buat makan aja. Pernah temen gue ngirim foto satu tahu isi, katanya dia cuma makan itu seharian. Gue gak tau bagaimana nasib temen gue beberapa bulan lagi. Dari badannya kayak tahu isi, mungkin bakal jadi togenya.

Dia juga cerita kalo orang tuanya mulai gak suka sama dia, wajar kecewa. Bahkan sampai mulai ada tanda-tanda mau diusir. Temen gue ini pun sempat nginep beberapa hari di rumah om dan tantenya, menceritakan itu semua. Omnya sedih, karena dulu pernah ngerasain salah jurusan. Maka dari itu omnya berniat untuk menguliahkan temen gue tahun depan di tempat yang berbeda. Temen gue seneng, bahkan dia ngirim foto ke gue tentang kamar barunya. "Aku bakal tinggal di sini sekarang!"

Beberapa minggu kemudian temen gue ngechat gue, "Woi! Aku nginep di rumah mu ya!" Lalu gue jawab, "Berapa lama?" Dia menjawab lagi, "Selamanya!" Kampret! Gue baru pernah ketemu temen yang ngerepotin temen lain kayak gini. Pas gue nanya kenapa dia gak tinggal di sana lagi, dia bilang, "Om ku udah dipengaruhin otaknya sama ibuk ku. Sekarang om ku berubah pikiran."

Akhirnya dia balik ke rumah lagi. Pikir gue dia bakal hidup di jalanan, ternyata balik ke rumah lagi. Melanjutkan hidup, sebagai penjaga warnet. Orang tuanya tetap ngotot agar temen gue training lagi, nyelesein pendidikan kuliah yang tinggal setahun lagi. Namun karena udah banyak gak dateng training, maka temen gue dapet tambahan tiga bulan ekstra training. Dapat dipastikan wisudanya terlambat.

Tapi dia tetap gak mau lanjut. Malah terus melanjutkan profesinya sebagai penjaga warnet. Tiap gue ke warnetnya, pasti dia lagi duduk depan komputer nonton pertandingan mobile legends. Kadang dateng bocah-bocah, lalu berkata, "Om bikinin tabel!", "Om Prinint gambar tari daerah!" Pada suatu kesempatan gue cerita ke temen lain, dan mereka pada bingung, namun juga bersimpati. Bahkan salah satu orang yang dulu sering mukulin temen gue ini, dateng ke warnet temen gue sambil bawain nasi goreng.

Waktu berlalu, tibalah masa dimana temen gue ngasih tau kalo dia udah resmi berhenti kuliah. Orang tuanya udah dateng ke kampus, untuk mengurus pemberhentian kuliah. Gue gak tau gimana perasaan orang tuanya, mengharapkan anaknya lulus dan mendapat sertifikat. Sementara anaknya selalu bilang, "Buat apa aku lulus kalo ujung-ujungnya jadi pengangguran?"

Sekian lama gak ketemu temen gue ini, suatu kesempatan dia cerita ke gue lewat chat. Dia bilang kalo sekarang udah berhenti kerja di warnet. Dia udah kerja di sebuah perusahaan investasi. Katanya semenjak dia keluar dari warnet, tempat itu langsung bangkrut. Karena gak ada yang mau kerja disana. Kalo gue jadi dia, mungkin aja gue bakal bilang, " Saya tetap kerja di sini, asal gaji jadi 10 juta sebulan! " Mungkin aja diterima, saking gaada yang kerja.

Kali ini temen gue mau ngerepotin gue lagi. Sosialisasi ke rumah. Jujur, investasi saham itu gue gak ngerti, dan mikir gak ada manfaat yang didapat. Apalagi dia selalu bilang siang, sementara gue masih ngampus.

Suatu hari dia ngajak gue ketemuan, di tempat biasanya nongkrong. Pas gue kesana, gue kaget. Ngeliat dia pake kemeja, tas baru, meja penuh makanan dan minuman. Gila! Semenjak kerja nasib temen gue berubah jauh. Dari makan tahu isi seharian, jadi makan spaggheti, nasi goreng dan dua minuman dingin. Sementara gue masih sama, mesen minuman 10 ribu, duduk diem berjam-jam. Tambah kaget lagi pas gue liat di tengah meja terdapat iPhone. Gila! Temen gue freak abis! Baru kerja sebentar, udah banyak duit. Mungkin beberapa bulan lagi gue diajak nongkrong, nih warung langsung dibeli di tempat.

Dia cerita kalo kerjaannya sekarang cuma sosialisasi. Ngomongin soal pekerjaan, gue agak waspada sama lowongan kerja jaman sekarang. Karena sering ada kasus penipuan, udah kerja sebulan, gak digaji. Dengan alasan gak dapet nasabah investasi 100 juta. Dan itu memakan banyak korban. Maka gue bilang ke temen gue, "Waspada! Awas lo ketipu! Udah dapet gaji belum? "

Dia jawab santai, sambil makan spagghetinya. "Gak bakal ditipu. Baru juga kerja seminggu, mana dapet gaji."

Sebulan kemudian gue dichat, "Anjir aku ketipu! Gak digaji bng***" Lalu dia ngajak gue ketemu buat bercerita. Pas gue kesana, gue kaget. Ngeliat dia duduk pake kaos, makanan cuma nasi goreng beserta satu minuman dingin. Sementara gue masih sama, mesen minuman 10 ribu, duduk berjam-jam. Lebih kaget lagi gue ngeliat di meja, cuma ada handphone kentang lamanya. iPhonenya hilang mendadak. Pas gue tanya kenapa, dia jawab, "Disita bapak ku."

Jadi selama ini itu iPhone punya bapaknya. Pas temen gue ini berhenti kerja, otomatis bapaknya langsung ngambil. Temen gue ini berhenti, karena udah sebulan lebih gak dapet gaji. Pas gue nanya perusahaan mana, dia kayak gak mau jawab. Dia bilang di suatu tempat yang lumayan jauh, gue masih curiga. Gue suruh foto tempat kerja kantornya, dia gak kau. Katanya bakal dimarah bosnya. Gue mikir, kantor apaan sih yang tertutup gini? Bukannya malah mencurigakan?

Soalnya temen gue yang lain juga pernah jadi korban penipuan perusahaan investasi. Gak digaji. Padahal awalnya dia berfoto dengan tumpukan duit kantor. Ngajakin gue dan temen lain untuk kerja di kantornya. Memuja kantornya tiap hari. Sampai akhirnya dia gak digaji dan alasan lainnya, dia menghujat kantornya habis-habisan. Di berbagai sosial media miliknya, bahkan ngasih tau gue dan temen lainnya untuk gak kerja di sana. Untungnya gue dan yang lain gak tersesat bareng dia.

Gue yakin kalo perusahaannya itu memang yang sama, yang nipu temen gue sekarang ini.
Tapi gue gak ngerti dia gak ngaku, seolah mau melindungi kantornya itu. Mungkin takut mengetahui kenyataan kalo memang kantor yang gue bilang itu benar-benar tempat dia kerja.

Beberapa hari kemudian dia bilang kalo perusahaaan yang gue ceritain itu memang tempat dia kerja. Dia keluar dari kantor, dan menerima begitu saja tanpa protes. Katanya dia dapet lowongan kerja dari ibunya.  Dan dia nerima gitu aja, tanpa mencari tau informasi tentang tempat kerjanya itu. Anjrit, goblok abis nih orang. Gue yakin kalo orang kayak temen gue ini gampang terpapar radikalisme. Tinggal dijelasin dikit, diimingi dengan gaji puluhan juta, mungkin dia bakal bilang, "Ya saya mau!"

Sekarang dia udah gak kerja lagi. Menghabiskan waktu sepanjang hari di kamar, atau kadang les bahasa Inggris. Dia bilang kalo mau nabung buat trading, biar duitnya banyak dan gak perlu kerja sama orang.Gue mengiyakan aja, walau gue gak yakin kalo dia ngerti begituan, karena nyoba aplikasi yang masih percobaan aja udah bangkrut terus.

Beberapa hari yang lalu, dia ngajakin gue buat ketemuan. Katanya dia mau bantu temennya buat laporan training. Karena gue sibuk, gue gak bisa pergi. Gue tanya ngapain dia bantu temennya buat laporan training, sementara dia udah berhenti kuliah dari lama. Gue kasian, khawatir temennya tersesat mengikuti wejangan temen gue ini. Temen gue menjawab, dan gue kaget banget. Dia nyogok kuliah.

Jadi bapaknya nyogok uang ke kampusnya, demi biar temen gue ini dapet sertifikat. Karena temen gue memutuskan gak mau training, maka gak bisa dapet sertifikat tanda lulus. Bapaknya pun nyogok demi anaknya. Pasti ngerasa rugi, udah bayarin kuliah setahun, malah berhenti padahal tinggal setahun lagi.

Gue ngerasa kasian sama orang tuanya, berharap anaknya bisa lulus lalu mendapat pekerjaan terbaik. Namun anaknya malah berhenti di tengah jalan. Di sisi lain gue tau gimana rasanya kuliah salah jurusan, bukan passionnya pasti gak nyaman menjalani, apalagi sampai kerja nanti. Ini semua karena jarang komunikasi, seharusnya dia cerita sama orang tuanya apa yang dia suka dan yang gak dia suka. Bukan hanya mengiyakan saja apa saran orang tua. Sekarang, gue gak bisa membayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan orang tuanya. Entah, gue berharap yang terbaik aja. Dan gue berharap, semoga dia gak diusir dari rumah, lalu tinggal di rumah gue selamanya. Karena cuma gue temen satu-satunya.

Gue belajar banyak hal dari temen gue ini. Apa yang dipilih, adalah tanggung jawab. Selesaikan apa yang telah dimulai.

Saat menulis tulisan ini, gue lagi ngopi di suatu tempat, yang sunyi. Mendadak gue terpikir, segala kekacauan yang terjadi selama kuliah di semester satu. Apa gue salah jurusan juga? 

Minggu, 29 Desember 2019

Ospek Paling Nyebelin

Memilih jurusan bukanlah hal yang mudah. Itulah yang gue rasakan sewaktu mau masuk kampus. Karena waktu tinggal dikit, dan gue kelamaan mikirin jurusan, akhirnya gue dengan cepat memutuskan untuk memilih manajemen. Sejujurnya dari jaman sma, gue paling goblok dalam pelajaran ekonomi. Gue gak ngerti sedikit pun materi ekonomi selama satu semester, dan gue selalu sukses menjadi korban tunjuk guru selama pelajaran.

Tapi gue tetap tenang, gue yakin masa Kuliah pasti beda dengan Sma. Karena pas kuliah pasti bakal diajarin semuanya dari nol, dari gak bisa menjadi bisa. Dan juga jurusan ilmu ekonomi itu lapangan kerjanya banyak, jurusan ekonomi itu bisa kerja di banyak bidang.  Dengan keyakinan seperti itu gue makin mantap memilih jurusan Manajemen.  Tiga hari kemudian gue pindah ke hukum. Kepikiran sama pelajaran yang bakal gue dapet nantinya. Gue bakal ketemu lagi sama yang namanya Akutansi, pelajaran yang bikin gue frustasi selama dua semester sewaktu SMA. Gue mikir, yang sma masih dasar aja udah frustasi pengen lari dari kelas, apalagi pas kuliah, pasti jauh lebih susah lagi. Diajarin pun gue juga gak bakal ngerti sedikit pun.

 Setelah selamat dari jadi mahasiswa 14 semester karena salah pilih jurusan, gue pun harus menghadapi yang namanya ospek. Bagi gue ospek itu hal yang gak penting, karena seringkali disalahgunakan, yang seharusnya untuk mengenalkan lingkungan baru, malah menjadi ajang kakak kelas mana yang paling galak dan nyebelin, Gue masih inget sewaktu masa orientasi SMa gue disuruh pakai atribut yang bikin gue dipandang aneh sama orang sekitar. Belum lagi dibentak-bentak sama kakak kelas, bahkan sampai mereka saling pukul yang ternyata cuma drama. Gue yakin ospek kuliah jauh lebih kejam, dan memakan korban jiwa.

Asumsi ini gue bagi ke temen gue yang kebetulan ngampus di tempat yang sama. Gue bilang kalau ospek nya bakal test militer. Ketika hari pra ospek tiba, gue berdiri di parkiran motor, lalu gue kaget setengah mati. Dengan jelas gue ngeliat ada sekumpulan orang pake seragam militer ijo-ijo. Ini beneran test militer? Kok bisa ada tentara di kampus? Atau gue salah masuk kampus?

Masih pra ospek aja udah ada tentara, mungkin pas ospek nanti udah ada parit, kawat duri, sama ranjau. Gak lama gue tau kalo itu ternyata organisasi mahasiswa. Anehnya, semua maba wajib manggil mereka dengan sebutan bapak dan ibu. Suasana waktu itu udah gak enak, auranya negatif dan suram. Apalagi dapet tugas dan barang bawaan yang perlu dibawa pas ospek lumayan banyak.

Gue pun menyiapkan semuanya, untungnya gue punya temen dan Bokap yang bisa diandalkan untuk ngerjain tugas gue. Sementara gue ngerjain tugas berat yang lain, misalnya beli permen 5 biji di warung.

Karena gue gak tidur akibat tugas ospek yang banyak, sejam sebelum ospek dimulai gue ketiduran. Pas bangun gue kaget, karena ospek udah mulai. Gue langsung berangkat, 20 menit kemudian gue sampai. Hari itu gue lupa kalo ada upacara bendera hut NKRI. Mampus gue.

Sesampai di kampus suasananya langsung mencekam. Kakak tingkat udah pada marah-marah. Untungnya gue gak telat sendirian. Gue langsung disuruh turun dari motor, lalu menuntun motor sendirian. Sementara yang lain pada berdua. Ya, hari itu gue lupa kalo setiap maba disuruh boncengan. "JOMBLO YA KAMU DEK?" teriak salah satu kating yang gue yakin dia jomblo juga. Gue cuek aja tetap dorong motor.  Tiba-tiba semua disuruh membuka jok motor, gue kaget karena baru tau ada pemeriksaan barang bawaan.

Pagi itu gue lupa nurunin barang di jok, alhasil novel gue disita. "KAMU MAU BACA NOVEL PAS OSPEK DEK?" bentak salah satu kating. Gue diem aja, dijawab malah memancing para tukang teriak ngeroyok gue. Salah satu maba ada yang ketahuan bawa rokok, entah apa yang akan terjadi. "MAHASISWA BARU MAU NGUDUT KAMU DI KAMPUS? " Sorenya gue cari akun instagram kakak tersebut, dan fotonya isinya ngudut semua.

Pas pulang salah satu yang mirip tentara bilang kalau ada mahasiswa baru yang barangnya disita, maka bisa diambil di ruang kedisiplinan. Saat itu juga gue pura-pura gak terjadi apa-apa, dan merelakan novel favorit gue. Dari beberapa cerita temen yang barangnya disita, di sana mereka ternyata disuruh minum minuman tradisional yang pait.

Aura di kampus terasa negatif, seakan hari-hari menjadi kelam. Duduk denger ceramah dari pagi sampai sore itu membosankan. Apalagi ada intruksi-intruksi dari kakak tingkat yang ngeselin. Misalnya badan ditegakkan, mata dipejamkan, pandangan lurus ke depan. Dan masih banyak lagi yang menurut gue gak jelas. Ada juga pertanyaan yang menurut gue bodoh buat ditanya, misalnya, "Ada yang pura-pura sakit? " Atau, "Ada yang mau sakit? " Siapa juga sih yang mau ngaku pura-pura sakit dalam keadaan penuh teriakan gini? Dan siapa juga sih yang mau sakit? Kecuali dalam keadaan ospek ya memang lebih baik sakit.

Yang gak enaknya juga ketika udah capek duduk, ngelawan rasa bosan, dan menderita, ada yang namanya pembacaan tugas. Dan itu banyak, dibuat pada hari itu juga, karena tengah malem udah harus dikumpul. Ada masa waktu gue udah selesai ngerjain semua tugas dari pulang ospek sampai malam, sewaktu mau ngumpul lewat aplikasi yang disuruh, gue ketiduran. Yang tadinya disuruh ngumpul jam 2, gue kumpul jam 5. Dua hari ospek gue cuma tidur sejam, karena takut gak bisa bangun gara-gara ngerjain tugas sampai tengah malem, dan ngerasa nanggung buat lanjut tidur yang sisa 2 jam lagi.



Selain itu gak enaknya juga setiap pulang kita harus nyapa kakak tingkat yang dengan sengaja berdiri di pinggiran tangga dari lantai 4 sampai bawah. Mulut gue capek buat bilang, "Sore kak." Puluhan kali. Kampretnya ada kakak tingkat yang disapa malah menatap atap.

Pagi hari adalah masa dimana ospek begitu mengerikan. Karena baru nyampe kampus, seluruh maba disuruh turun dari motor, lalu dorong motor memutari lapangan kampus sambil diteriakin kakak tingkat bem. Apa pun yang lo lakukan sebagai maba itu selalu dianggap salah. Misalnya lambat dorong motor, bakal diteriakin, "Masih pagi udah ngantuk kamu dek!! " Kalo terlalu cepet, diteriakin, "Tabrak temennya dek! Tabrak!"

Yang gak kalah nyebelinnya yang gue kira awalnya hansip atau cosplay tentara yang ternyata organisasi mahasiswa itu ikut campur juga untuk mengeksekusi para maba. Mereka dapet bagian ketika pemeriksaan atribut mahasiswa baru. Jadi mereka membacakan aturan, atribut dan barang bawaan satu persatu, menyuruh maba untuk mengangkat barang bawaan tersebut yang sengaja dibuat lama. Barang bawaannya pun menurut gue gak ada faedahnya. Contohnya permen bebas 5 biji, tidak kurang tidak lebih.

Apesnya gue sempat bawa 6 permen, dan itu disuruh diangkat untuk diliat. Saat itulah bakat sulap gue mendadak keluar, jadi salah satu permen itu gue jatuhin ke tanah dengan cepat, lalu gue dudukin biar enggak terlacak dan terdeteksi. Ada sesi dimana maba harus makan dua jajan yang dikasih, dan itu harus dimakan cepet. Dikasi waktu 5 detik.

Waktu itu gue masuk di grup sembilan, yang orang-orangnya lumayan kocak. Tapi gue termasuk pendiem, jadi gue cuma merespon omongan dengan ketawa. Kakak pendamping grupnya judes, tapi mudah untuk dikelabui. Selama ospek salah satu strategi yang gue pegang adalah: be invicibles. Jadi gue diem, gak cari perhatian, biar gak keliatan oleh para kakak tingkat.

 Yang paling kasian adalah yang jadi ketua grup, karena apa pun kesalahan yang dilakukan anggota, dia yang bakal kena semprot. Gue inget ketika waktu ketua grup gue bikin dua grup. satu grup yang isi kakak pendamping, yang satu lagi khusus anggota grup. Gue yakin niatnya baik, biar gak ganggu kakak tingkat. Tapi yang namanya maba, apa pun yang kita lakukan pasti dianggap salah, bahkan dianggap sebagai suatu pemberontakan.  Ketua grup gue sukses dikeroyok dan dibentak kakak tingkat, hebatnya dia tabah dan gak nangis.

Kegiatan ospek menurut gue membosankan. Dari pagi sampai sore, dan gak boleh megang handphone sama sekali. Belum lagi bentakan, dorong motor, dan pembodohan lainnya yang bikin gue males buat dateng. Gue pun bilang sakit ke kakaknya, sambil menyiapkan surat palsu yang bakal dikumpul besoknya. Untungnya kakaknya percaya, dan gue sukses tidur seharian saat itu.

Gue selalu menanti yang namanya hari Kamis, karena saat itu gue dan semua maba lainnya terbebas dari segala siksaan dan penderitaan, dan dorong motor. Karena punya pengalaman pait sewaktu sma, gue pun belajar sesuatu dari sana: jangan dateng saat hari terakhir ospek. Karena hari itu adalah hari puncak kemarahan kakak kelas, terakhir menyiksa adik kelas, dan hari penghakiman terakhir. Maka dari itu gue menyusun rencana sakit pada hari rabu. Bahkan gue berusaha menghasut beberapa temen kelompok gue buat gak dateng besoknya, demi kebersamaan melawan tirani.

Besoknya hari Kamis enak, masuk jam 4 sore, banyak acara hiburan pementasan panggung. Gue pun berhasil menipu kembali kakak pendamping grup gue, dan menikmati indahnya terbebas dari penghakiman. Tapi kadang gue kepikiran gimana nasib temen gue di medan pertempuran. Kasian juga mereka, mampus. Semoga aja mereka pulang dalam keadaan lengkap dan utuh.Gue sih ngelanjutin tidur.

Sorenya gue dapet kabar kalo besok masuk pagi. Gak jadi masuk sore, menikmati pesta. Itu berarti gue bakal dorong motor lagi, mungkin hari terakhir lebih parah: ngangkat motor. Bakal diteriakin lebih keras lagi, atau mungkin bakal ada drama lagi? Seketika gue pengen ngerencanain buat sakit, tapi gue teringat kalo udah gak masuk dua kali, takutnya bakal gak lulus dan ngulang tahun depan. Akhirnya gue masuk besoknya. Siklusnya masih sama, baru dateng dorong motor, atribut diperiksa. dibentakin. Dejavu.

Siangnya waktu seluruh maba berkumpul untuk agenda selanjutnya yang tentunya sambil menunggu diisi dengan intruksi gak jelas, suasana pun berubah kelam. Kakak tingkat mendadak marah-marah, sambil ngasih tau bahwa bakal ada banyak maba yang gak lulus kegiatan ospek. Saat itu gue mendadak takut, jangan-jangan gue nih yang gak lulus? Apalagi gue sempat menghasut beberapa temen buat gak dateng ospek (mungkin ada utusan kakak tingkat di grup gue). Tapi gue tetapp percaya diri, pasti ini semua cuma drama.

Suara teriakan terdengar di seluruh sudut ruangan, salah satu kakak tingkat menyuruh beberapa orang untuk maju ke depan, membacakan siapa saja yang gak lulus. Bahkan disuruh untuk ngerobek sertifikat itu, yang dipake nantinya buat skripsi. Waktu itu gue udah tau kalo semua cuma rekayasa, jadi gue santai aja sambil senyum-senyum. Temen gue yang lain udah pada tegang, mungkin menganggap ini semua serius.

Gak lama semua makin terlihat drama ketika kakak tingkat mulai berdebat satu sama lain, ada yang membela maba, ada yang pengen jatuhin maba. Semua maba diintruksikan untuk menutup mata, agar tidak melihat kejadian memprihatinkan seperti itu. Lalu korban drama pun berjatuhan, mulai ada yang nangis dan pingsan. Gue kasian sama mereka gak tau kalo udah jadi korban drama memalukan. Gue senyum aja, menghadapi semua dengan tenang.

Karena situasi tak kunjung membaik, keadaan yang buruk itu pun mulai mempengaruhi gue. Gue merasakan ada sedikit pergerakan dari air mata yang ingin segera turun. Dalam hati gue berkata, "AIR MATA JANGAN KECEWAKAN AKU!" Sekuat tenaga gue menahan, akhirnya jatuh juga. Dan gue berhasil menangis sedikit.

Keadaan suram berlangsung cukup lama sampai akhirnya selesai ketika seluruh maba diintruksikan untuk membuka mata. Terlihat jelas seluruh kakak tingkat berkumpul di panggung. Semua hanya drama. Lagu kampus yang mencuci otak gue diputar lagi, suasana menjadi baik, nyaman, terkendali. Gak lama organisasi mirip tentara di kampus gue juga dateng sambil tersenyum. Gak ada lagi ketegangan, pemeriksaan atribut, dorong motor. Semua telah selesai.

Selesai itu tugas yang kemarin disuruh pun dikumpulin. Tugas surat benci dan surat cinta beserta hadiah buat kakak tingkat panitia ospek. Sejujurnya gue gak tau harus ngasi coklat dan surat cinta ke siapa, karena mereka semua nyebelin. Tapi gue teringat kakak pendamping grup gue, yang udah gue tipu soal surat sakit. Maka dari itu gue pun dengan hati yang berusaha ikhlas membeli dua buah coklat lalu ngasih ke dia. Itu pun caranya nyebelin, karena lagi dan lagi kakak tingkat berdiri di pinggiran tangga, lalu maba harus bersalaman sambil bilang, "Makasih kak."

Selanjutnya kita semua berpesta dengan penuh kesenangan. Ada beberapa penampilan dan stand-stand yang berdiri di lapangan parkir. Gak lama kesenangan berakhir waktu dapat kabar kalo maba gak boleh pulang sampai acara selesai jam 10 malem, ada pembagian sertifikat.

Selain ada penampilan dan stand makanan, ada stand organisasi mahasiswa dimana para maba nanti bisa memilih mau gabung yang mana. Saat itu juga gue tanpa pikir panjang langsung mendatangi stand punya organisasi badan eksekutif mahasiswa untuk daftar, yang sebenarnya niatnya untuk ngerasain gimana menjadi orang jahat, nyebelin, nyuruh dorong motor selama seminggu ospek.

Sembari menunggu test masuknya, gue nanya ke salah satu temen yang udah jadi anggota badan eksekutif. Dia bilang kalau test masuknya isi presentasi, tugas, dan yang bikin gue kaget para mirip tentara ikut ngambil bagian.

Gue yakin pasti bakal ngerasain kayak ospek lagi, mungkin lebih parah. Gue juga berpikir. apa dramanya bakal jauh lebih parah?






Sabtu, 03 Agustus 2019

Pengalaman Les Mobil Paling Absurd

Dari dulu gue selalu kepengen punya mobil mewah. Tapi yang jadi masalah, kalo pun gue punya, gue cuma bisa gerakin stirnya doang. Buat gerakin mobilnya mungkin butuh orang buat ngedorong, karena gue gak ngerti cara nyetir. Kalo pun bisa, palingan cuma bom-bom car. Itu pun sering kecelekaan dan kebalik mobilnya.

Dulu juga gue sering main game balapan mobil, hasilnya selalu tabrakan dan ketinggalan jauh dari musuh, itu pun masih tutorial. Memang gue gak ditakdirkan untuk menyetir karena kapasitas otak kurang memadai.

Menyetir di dunia nyata dengan dunia game jelas berbeda. Kalo di dunia nyata kecelakaan gak ada yang namanya fitur replay (mengulang kembali sebelum kecelakaan). Mau ngebut, jalanan macet. Belum lagi ketemu orang tua yang naik motor cuma ngerti gas dan rem. Dan gak bisa ngelindes pejalan kaki sesuka hati.

Semakin hari gue makin sering ngeliat temen yang mulai bisa naik mobil. Mulai dari bikin InstaStory megang setir (mungkin cuma bisa foto doang), dengerin lagu di radio mobil (entah ini dengerin lagu atau mau pamerin radio mobil), dan pamer nyetir mobil ngajak ceweknya (di belakang ada yang dorong mobil).

Tapi gue gak ada keinginan buat bisa nyetir kayak mereka, gue pecinta motor garis keras. Sampai akhirnya keluarga gue mulai mendesak. Mereka bilang kalo cowok gak bisa naik mobil itu memalukan, aib bagi keluarga.

Gue sih santai aja, gue ngerasa jauh lebih nyaman naik motor. Parkir gampang, gak kena macet, dan bayar parkir lebih murah.

Suatu hari om gue ngajakin gue buat nganterin sodara memperlancar nyetir mobil, sekalian gue belajar mobil di suatu tempat lapangan luas yang emang banyak orang belajar di sana.

Ternyata sodara gue udah lancar. Hebat juga, kalo dia bisa gue juga pasti bisa. Apalagi gue inget banyak dasar menyetir dari game. Sesampai di lokasi latihan, tempatnya ditutup. Udah gak boleh belajar mobil di sana lagi, tempatnya dijaga ketat. Yang nekat masuk mungkin ditembakin.

Akhirnya gue belajar di jalan kapur kecil yang tersisa, dan itu bencana. Medannya hancur semua, jalannya lubang, dan mobil yang gue pake mobil sedan. Dan itu mobil om gue, mobil yang biasa dipake pejabat tinggi. Gue gak bisa bayangin mobil begitu hancur dalam waktu 5 menit.

Tapi gue mencoba tetap tenang, yakin pasti bisa. Pengalaman main game bertahun-tahun pasti bakal membantu gue banyak. Sampai akhirnya tiba giliran gue duduk di kursi stir. Gue diem, gue bengong, gak tau harus ngapain. Semua yang gue pelajarin dari game gak kepakai.

Melihat kegoblokan itu om gue langsung ngasih tutorial nyetir yang bener. Setelah selesai, om gue nyuruh gue untuk mempraktekkan apa yang diajarin. Dengan percaya diri gue pun mencoba. Gue pun nginjek gas.

GASNYA KEKENCENGAN, om gue panik. Untungnya mobilnya dalam keadaan mode parkir. Andai aja enggak, mungkin aja mobilnya udah menghajar lubang, batu, dan pohon.

Setelah keadaan normal, barulah om gue berani ngelepas mode parkir ke mode jalan. Pas baru gue mau gas, mobilnya jalan sendiri. Gue panik, kok bisa? Padahal belum gue injek gas. Takut mobilnya masuk lubang, akhirnya gue cuma gerakin stirnya doang.

10 menit latihan penuh maut, om gue memutuskan kalo dia bakal bayarin gue buat les mobil. Gue sih lega, setidaknya gak belajar pake mobil yang terlalu mahal buat nabrak atau masuk got.

Gue les di salah satu lembaga yang cukup terkenal. Jadwalnya lumayan padat, 10 kali pertemuan, setiap pertemuan selama satu jam. Pertama kali dateng gue duduk menanti siapa yang bakal ngajarin gue, membimbing gue, dan siap mati untuk tugas itu.



Gak lama dateng seorang cewek tomboy berambut cowok, badannya besar, dan penuh tatoo. Gue berharap dia bukan yang ngajarin gue. Harapan gue gak terkabulkan, ternyata dia yang bakal ngajarin gue latihan 10 kali kedepannya.

Dia mengenalkan diri, namanya kak Emon. Nama yang gak asing buat gue. Yang sempat bikin gue ketakutan. Seperti nama seorang penjahat kelamin yang suka menyodomi bocah laki-laki. Jelas dong gue takut, siapa tau sekarang udah ngincar remaja.

Dia membawa gue ke pinggir jalan, memberhentikan mobil, lalu menyuruh gue untuk tukaran kursi, biar gue yang nyetir. Dia menjelaskan dasar-dasar menyetir sampai tuntas. Lalu menyuruh gue untuk latihan posisi tangan sewaktu membelokan stir. Dan itu butuh waktu yang lama. Belum lagi seluruh tubuh gue gemetaran.

Dia nanya ke gue, "Kamu ini kenapa? Waktu latihan kamu habis cuma buat dipake kayak gini." Setelah menghabiskan waktu sekian lama untuk megang stir doang, akhirnya kak Emon membolehkan gue untuk ngejalanin mobil.

Pertama kali belajar nyetir di jalan raya gue malah kepengen ngebut, sampai gue kena omelan. Gue males aja nyetir terlalu pelan, apalagi depan gue kosong semua.

"Maaf kak, kebiasaan di game," jawab gue ketika dimarahin karena terlalu ngebut.

"JANGAN KAMU BAWA KEBIASAAN DARI GAME! INI DUNIA NYATA BISA CELAKA!"Dia merespon dengan nyolot.

Rute perjalanan cukup gampang menurut gue, karena di jalan lurus. Baru latihan aja udah lumayan jago gue. Tibalah di lampu merah, kak Emon menyuruh gue untuk belok kanan. Kebetulan beloknya itu memutar, gue langsung panik setengah mati. Karena panik, gue hilang konsentrasi. Ketika belok disuruh lepas gas, gue malah ngegas.

Dalam diri gue timbul niat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Harus! Maka ketika ada belokan kayak gitu lagi, gue lupa semua niat itu.

Latihan selanjutnya rutenya udah gak hanya di jalan lurus, melainkan udah mulai masuk jalan yang lebih sempit, dan tentunya banyak belokan (siap dimarah tiap ada belokan). Gue udah gak lagi mengalami gemetaran seluruh tubuh, udah mulai percaya diri.

Poblem yang gak gue sadari sewaktu menyetir adalah kadang gue terlalu mepet sama trotoar. Gue gak bisa bayangin kalo guru lesnya lengah sedikit, mungkin mobil udah jalan di trotoar.

Pada suatu latihan, gue terlalu asik nyetir sambil melamun. Sampai gue gak merhatiin, kalo mobilnya udah terlalu mepet sehingga nyaris ngelindes bapak-bapak tua di pinggir jalan. Pembimbing gue sampai panik dan nyaris kena serangan jantung mendadak. Gue cuma nyengir tanpa dosa, berharap bapak tua tadi gak mati jantungan karena nyaris dilindes.

Latihan berikutnya pembimbing gue mulai percaya sama kemampuan gue. Jadi pas gue nyetir, dia main hape sambil merhatiin gue. Mungkin takut sewaktu-waktu gue ngelindes pejalan kaki.

Problem terbesar yang gue rasakan selama menyetir yaitu belokan. Entah kenapa gue gak ngerti seberapa harus gue belokin stir setiap ada belokan. Kadang juga gue lupa ngembaliin stir ke posisi semula. Jadi bukannya lurus setelah selesai belokan, malah mobilnya menyamping.

Sampai hari ini gue masih inget sebuah kata-kata bijak dari pembimbing gue yang selalu diucapkan hampir setiap latihan. "Kamu kenapa? Ada masalah? Hari ini kamu terlalu banyak salah."

Gue bertekad untuk membuktikan kalo gue bisa, dan tentunya biar gak rugi bayar les. Harapan gue pun terkabul ketika kak Emon bilang, "Kamu udah lancar ini nyetirnya. Bagus, udah bisa sekarang." Gue tersenyum mantap. Gak lama muncul belokan tajam, gue lupa seberapa harus muter stir, dan gue lupa berhenti nginjek gas.

Untungnya kak Emon selalu siap siaga mengamankan keadaan. Pujian pun berubah menjadi cacian. "Kamu ini kenapa? Baru dua hari gak latihan udah lupa semua!"

Yang gak kalah susah adalah latihan parkir. Menurut gue parkir itu susah dan ribet. Pembimbing gue beberapa kali ngajarin cara parkir, dan gue sukses bikin pembimbing ngambil alih setir mobil. Kalo pun nanti gue masih gak bisa parkir, yaudah gue ninggalin mobil di tengah jalan.

Sampai latihan ke 8 gue cuma bisa nyetir di jalan lurus doang, atau di jalan yang beloknya gak terlalu parah. Latihan selanjutnya ke 9 dan 10 gue mengundurkan diri, karena gue yakin penilaiannya selalu sama, "Hari ini kamu terlalu banyak salah."

Kampretnya, pembinanya juga gak asik. Karena gak bisa diajak ngobrol santai. Tiap ditanya, pasti jawabnya, "Kenapa kamu nanya?" Mungkin kalo gue nanya, "Kak stirnya mau lepas ya?" Bakal dijawab kayak begitu juga.

Setelah les selesai, gue cuma pernah sekali doang belajar lagi. Sementara gue adalah orang yang suka lupa semuanya kalo sehari gak ngelakuin sesuatu yang biasa dilakukan tiap harinya. Entah kalo nyetir lagi, mungkin gue lupa semuanya.

Belakangan ini gue kepengen punya mobil sport. Tapi masalahnya, mobil begini kalo gak ngebut, gak asik. Aneh aja gitu, mobil buat balapan, malah dipake buat balapan sama pejalan kaki. Sementara gue terbiasa nyetir di kecepatan 20. Ini semua karena gue dicuci otak untuk nyetir pelan sama bimbingan les mobil, karena takut celaka.

Les mobil gak begitu banyak membantu gue. Tapi setidaknya ada kegunaannya juga: jadi tumbal. Kalo misalnya pas gue belajar mobilnya nabrak, ditabrak, kebalik, setidaknya bukan mobil gue sendiri. Dan kalo pun celaka, ada orang lain yang nemenin.

Kegoblokan gue dalam menyetir membuat gue takut suatu hari membahayakan orang lain. Gue jadi ngebayangin kalo hal itu terjadi. "Aduh! Goblok! Ngelindes orang lagi," kata gue, lalu turun untuk bertanggung jawab melihat korban yang gue lindes.

Pas gue deketin, si korban yang tergeletak bilang, "Kamu terlalu banyak salah hari ini." Gue kaget, kayak pernah denger omongan itu. Gue deketin lagi, ngeliat mukanya, ternyata kak Emon.

Karena penuh darah, gue nanya, "Mau dibawa ke rumah sakit?"

"Kenapa kamu nanya gitu?"

Gue pun ngelindes sekali lagi.


Sabtu, 22 Juni 2019

Teman Komplek Terbaik

Gue kangen sama yang namanya teman komplek. Karena dulu hidup gue sering pindah-pindah tempat (mungkin sumber airnya kering) atau nomaden, maka gue punya banyak temen komplek. Setiap temen punya keunikannya sendiri. Gue inget dulu pernah punya temen yang kerjaannya nonton video dewasa, dan dia masih kelas 2 sd. Ada juga temen yang sombong, yang sok kuat, giliran ditendang pake bola sekali langsung nangis jerit-jerit.

Dari sekian temen di beberapa komplek, ada temen di sebuah komplek yang sampai sekarang masih gue inget, yang pernah bikin gue nangis berjam-jam di bawah pohon karena hal paling menyakitkan.



Jadi ceritanya dulu gue baru pindahan rumah, tinggal di lingkungan baru memang banyak yang beda. Yang gue rasa beda itu temen sekitar rumah. Karena gue orangnya pendiem, susah bergaul, jadi gue gak ada niatan untuk nyari temen di sekitaran rumah. Apalagi selama gue merhatiin, kebanyakan di komplek gue itu isinya anak-anak doang, gak asik, cengeng. Diajak main sembunyi-sembunyian palingan bisanya ngumpet di belakang yang ngitung.


Awal-awal pindahan gue menjadi anak rumahan paling freak, yang tiap hari cuma main game. Kebetulan waktu itu gue punya xbox, jadi gue lupa sama dunia luar. Suatu siang gue berantakin semua kartu yu gi oh, lalu nyari kartu mana yang berguna. Abis itu gue main, sendiri. Saking gue gak punya temen, main kartu yang harusnya berdua, bisa jadi sendiri. Gue lawan diri gue sendiri.

Temen sd sebenernya ada, tapi gak mungkin juga gue suruh main ke rumah. Jarak rumah gue dengan rumah mereka itu terlalu jauh, apalagi jaman gue waktu itu anak kecil seumuran gue masih pada normal, belum ada yang bisa naik motor. Kendaraannya yang ada mentok-mentok skutter sama sepatu roda.

Pas lagi main kartu dengan diri sendiri, Nyokap manggil anak kecil yang kebetulan lewat di depan rumah, lalu disuruh masuk. Dengan cara itu, akhirnya gue punya temen juga. Gak main kartu sendiri lagi. Namanya Zaki, gue lebih tua beberapa tahun dari dia. Berawal kenal satu, lainnya pun gue kenal. Yang kedua ini namanya Azzam, kebetulan dia lagi nyari si Zaki, karena Zaki ada di rumah gue, akhirnya si Azzam masuk ke rumah gue dan kita pun berkenalan.

Semenjak hari itu rumah gue makin rame dengan anak kecil, adiknya si Zaki. Kita pun main sembunyi-sembunyian. Gue pasrah main sama anak kecil, daripada main sendirian. Pas lagi main, dateng dua orang temen baru, namanya Abi dan Falo.

Ternyata tiap sore temen-temen selalu main bola, gue pun diajakin. Skill main bola mereka juga lumayan, skill gue juga lumayan... menyedihkan. Dribbling bola aja pake tangan. Dari main bola gue kenal beberapa temen baru lagi. Kebanyakan dari mereka sempat ikut akademi sepak bola, gak heran mainnya jago. Gue aja mentok-mentok belajar dari game winning eleven, itu pun yang gue bisa praktekkin cuma ngelempar bolanya kalo keluar lapangan.

Tiap sore wajib main bola, mainnya di lapangan rumput belakang komplek. Demi bisa main bola, kami harus melawan segala rintangan berbahaya yang mengancam nyawa. Lapangan rumput ini hampir tiap hari dipake tetangga buat markir mobilnya, entah tujuannya emang mau markir atau mau mengurangi luas lapangan buat main bola. Tiap kali main mesti berharap kalo mobilnya kena bola, semoga tetangga gak sadar.



Belum lagi kalo lapangannya berdebu, jadi setiap mau main, wajib buat nyiram lapangannya pake air. Karena kalo gak disiram, debunya bakal terbang kemana-mana. Gue gak tau berapa tetangga yang mati tiap kali kita main bola. Salah nendang bola juga bahaya, bisa hilang di hutan. Soalnya deket lapangan ada hutan yang banyak pohonnya. Sekali ngambil bola di sana, sekujur tubuh bisa penuh gigitan hewan buas.



Kadang ada tournament bola, lawannya dari gang lain, gang perkutut dan kakatua. Walaupun mereka tamu, gak ada tuh yang namanya pengeroyokan, penyerangan sampai meninggal. Kita semua main dengan damai. Biasanya karena jumlah pemain lebih banyak dari yang seharusnya main, maka ada yang dicadangin. Dan itu gue.

Main gue juga gak beraturan. Kadang ngerugiin tim lawan, kadang ngerugiin tim sendiri, kadang ngerugiin tetangga sekitar. Yang jelas, tournament begini rasanya udah kayak  ikut ajang piala dunia, atau kompetisi besar. Ada semacam dorongan yang kuat dalam diri gue untuk memberikan yang terbaik, yang pada akhirnya malah ngerugiin tim sendiri.

Semenjak kecanduan main game online, setiap diajak main bola pasti ada aja alasan gue. Mulai dari eventnya bagus, expnya banyak, ngejar ranking. Pas waktunya bisa main bola, itu karena gamenya maintenance.

Selain main bola, biasanya yang lain pada ngumpul di rumah gue. Sekedar buat ngobrol, main game bareng, dan nontonin gue main game. Selain rumah gue, posko deket lapangan bola juga dijadiin tempat buat ngumpul. Gue masih inget banget di kayu posko ada coretan semacam ejekan nama orang tua, atau ejekan lainnya.

Yang paling gue tunggu waktu tahun baruan. Pada kompak ngumpulin petasan, terus dinyalain bareng-bareng. Gue gak ada kontribusi apa pun, hanya nonton. Jujur aja gue takut nyalain petasan, apalagi yang diarahin ke langit itu. Kalo pun gue nyoba, malam tahun baruan bakal jadi malam berdarah.

Punya temen itu enak, dibandingin mengasingkan diri sendirian. Misalnya pas pulang sekolah, karena orang tua kerja, kadang orang tua gue lupa ngasih kunci gerbang rumah. Biar gak nunggu lama, mau gak mau gue harus manjat.

Problemnya itu tembok rumah gue agak susah dipanjat, ditambah ada besi yang tajem. Mirip kayak tempat naruh kepala orang yang abis dipenggal. Untuk menghindari benda tajam, untungnya gue punya tetangga baik, adiknya si zaki. Jadi gue suruh bawain kursi, terus gue manjat. Karena gue baik, gue kasih imbalan besar. Bisa main ke rumah gue.

Kami semua berbeda agama, tapi gak ada yang namanya membeda-bedakan. Gak ada tuh satu pun dari kita yang nentuin yang lainnya masuk surga atau neraka. Gue paling suka waktu ngabuburit, soalnya gue pernah diajak keliling bareng.

Kegiatan lainnya yang seru yaitu ngerujak bareng. Buahnya metik dari pohon belimbing yang ada di halaman rumah gue, atau ngambil buah mangga punya tetangga belakang, deket posko. Jadi mobilnya udah kena tendang, rumahnya kemasukan debu, pohon mangganya juga kecolong. Entah siapa pun yang punya.

Banyak hal yang gue dan temen-temen komplek jalani bersama. Beberapa tahun yang istimewa. Hari-hari terasa gak kosong. Gue selalu hapal tiap jam 9 atau 10 pagi hari minggu, pasti udah ada yang manggil gue di rumah.

Semenjak tamat sd, banyak hal yang berbeda. Gue dapet beberapa kabar menyedihkan. Temen gue ada yang mau ngelanjutin pendidikannya di ponpes, jadi bakal pindah ke Jawa.

Kedua temen gue yang lain, Abi dan Falo juga bakal pergi. Bokapnya pindah tugas, balik ke NTT. Gue ngerasa sedih, hari perpisahan akan segera datang. Tibalah hari perpisahan, pagi-pagi bareng temen yang lain gue udah siap menyambut kepergian temen gue.

Gue diem di depan rumahnya, menunggu mereka keluar. Gak lama, kedua temen gue pun keluar dengan membawa barang-barangnya. Kita saling berbincang, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Karena gue gak punya uang buat ketemu.



Sebelum pergi, temen gue menyempatkan untuk menulis nama mereka di aspal. Dengan menggunakan batu kapur, berharap tulisan itu abadi sebagai kenangan agar gue gak lupa nama mereka. Ya, walaupun goblok juga sih, kena hujan aja hilang tuh tulisan.

Setelah pamitan, mereka pun pergi. Gue terus ngeliatin mobil yang mereka tumpangi, seolah gak percaya aja atas apa yang gue alami.

Abis itu gue pulang ke rumah, duduk di bawah pohon jambu. Mengingat semua kebersamaan yang berakhir hari ini. Dan gue pun nangis, hampir 1 jam lebih.

Sebelum kedua temen gue ini pergi, dia ngasih sesuatu buat gue. Ada yang ngasih gambarannya di kertas, mungkin dia pengen gue kelak nempel gambarnya di tembok rumah gue. Ada yang ngasih topi pramukanya, mungkin biar gue terlindung dari hujan (siapa juga yang kehujanan langsung pake topi?)

Sementara gue sendiri kalo gak salah ngasih mereka mobil mainan, gue sendiri gak ngerti buat apa. Semoga aja bisa melindungi mereka dari orang jahat.

Perlahan gue mulai ditinggal temen satu per satu. Suasana pun berubah jauh. Gue gak pernah lagi main bola tiap sore, dan gak pernah ngumpet lagi tiap diajakin main bola. Beberapa tahun semenjak kepergian beberapa temen, giliran gue yang pergi. Gue pindah rumah lagi untuk kesekian kalinya. Tempat yang baru gak ada temen yang seumuran kayak gue, yang ada cuma pedagang sayur sama kuli bangunan. Gak mungkin juga gue ngajak mereka petak umpet.

Belakangan ini gue mencari informasi temen lama gue. Beberapa temen yang gue stalk udah banyak berubah. Ada yang udah mandiri mencari uang sendiri, ada yang tinggal di Pesantren, ada yang tiap bikin instastory isinya pacaran semua.

Mungkin sekarang udah hampir 7 tahun gue gak pernah ketemu mereka semua. Jarak kami saling berjauhan, terpisah pulau. Mau ketemu pun susah dan berat banget... ongkosnya. Tapi ada yang jauh lebih susah buat ketemu, yaitu temen satu kota.

Untungnya gue masih bisa berkomunikasi sama beberapa temen dulu. Tentunya temen yang masih inget gue dan gak mengalami hilang ingatan dini. Karena kami punya kesibukan masing-masing, bales pesannya jadi lama. Misalnya gue ngechat temen, bakal dibales sejam kemudian. Lalu temen ngechat gue, gue bales 2 hari kemudian. Padahal gue gak ngapain dan megang hape sepanjang hari.

Gue berharap suatu hari nanti bisa ketemu mereka semua, saling bercerita soal pengalaman hidup masing-masing. Dan yang paling penting, gak jauh dari rumah gue.

Dan kalo pun nanti beneran ketemu, sehabis ketemu gue cuma punya satu harapan: gak nangis di bawah pohon lagi.



Jumat, 25 Januari 2019

Menjadi Fans Garis Keras JKT48

Dulu banyak cowok yang terobsesi sama Jkt 48. Sebuah idol grup yang berisikan cewek-cewek yang cantik, pinter nyanyi, dan pinter bergoyang. Idol grup ini pada waktu itu disukain sama banyak orang. Gak semua suka dari faktor lagunya, melainkan anggotanya yang cantik. Itulah alasan yang mendasari gue ngefans berat sama jkt 48.



Gue mulai ngefans waktu tahun 2012, di mana jkt 48 lagi booming di Indonesia. Sering tampil di tv, hebatnya lagi gue gak pernah kelewatan buat nonton. Hapal setiap jadwalnya tampil. Lebih hapal jadwal jkt48 tampil dibanding jadwal pelajaran sekolah.

Banyak lagunya yang juga gue suka, bahkan sampai gue hapal beberapa gerakan dancenya. Berkat latian di rumah pas sendirian, nonton video klip lagu jkt48 sambil niruin gerakannya. Entah faedahnya apaan. Gue niru gerakan gitu sambil jalan di mall juga gak keliatan keren.

Gue punya semua lagunya, yang tentunya gak original. Dan tentunya sebagai seorang cowok yang normal, banyak foto anggota jkt 48 yang gue koleksi. Gue paling suka sama anggota yang... ah banyak 10 lebih!

Setiap hari foto profile gue di sosial media pasti jkt 48, gak pernah majang foto sendiri. Tiap ngupload foto di sosial media semacam facebook, lagi-lagi jkt48. Status facebook juga dipenuhi jkt 48, apa pun updatenya, jkt 48 dong.

Pernah saking seringnya pake foto profile anggota jkt 48, ada yang nyangka gue cewek beneran. Andai gue jahat, mungkin udah gue suruh dia beliin pulsa, abis itu gue kasih emot cium.

Dulu gue punya temen sesama wota (sebutan fans jkt 48) yang ada di luar kota. Dia jauh lebih tau selak beluknya jkt 48. Mungkin hapal semua alamat anggota jkt 48. Sebagai senior, dia banyak cerita soal pengalamannya, ngasih tips and trick, ngirim emot cium. Gue ketemu dia di game online, tinggalnya beda kota sama gue. Hampir setiap obrolan dipenuhi jkt 48, gue inget banget kalo dia ikut komunitas wota di kota asalnya.

Sebagai fans sejati, katanya dia sering beli merchandise official. Seperti lightstick, photopack (foto anggota jkt 48), dan bajunya. Berbeda dengan gue yang beli kuota, buat download lagu bajakannya.

Mendengar setiap ceritanya, membuat gue tergerak. Dalam diri timbul niat untuk mulai menunjukkan bahwa gue ini seorang fans sejati.
Pertama, gue cari bajunya. Kedua, gue cari lightsticknya. Ketiga, gue ikut komunitasnya. Waktu itu gue masih kelas satu smp, umur segitu ikut komunitas mungkin jadi hal yang aneh.

Kehidupan gue sehari-hari juga gak jauh dari jkt 48. Semua temen tau kalo gue suka jkt 48. Soalnya mereka saksi dari betapa alaynya gue ganti foto jkt 48 beberapa jam sekali. Bahkan tante gue sendiri sempat protes karena gue terlalu alay, udah kayak bukan cowok. Waktu itu ada pelajaran bahasa indonesia disuruh nyeritain tokoh idola, yang gue ceritain jkt 48. Mulai dari proses berdirinya jkt 48, asalnya dari mana, sampai kenapa gue mengidolakan mereka. Ya, karena cantik! Gak ada alasan lainnya.

Untuk menunjukkan bahwa gue bukan fans yang sukanya ilegal, gue memutuskan untuk beli baju jkt 48. Dan lagi, bajunya enggak official. Melainkan beli buatan orang lain. Selain baju, yang gue pengen yaitu lightstick. Masalahnya gue gak tau fungsinya buat apa. Kalo pun gue bawa pergi, malah dikasi duit sama orang. Disangka tukang parkir.



Yang paling bikin gue nangis tiap kali ngeliat harganya yaitu photopack. Semacam foto anggota jkt 48 yang dicetak. Harganya mahal, gak terjangkau sama gue yang masih berumur 13 tahun. Ngabisin duit orang tua buat membeli foto wanita dewasa bukanlah hal yang baik.

Setiap orang di dunia ini pasti punya impian jadi orang yang sukses. Waktu itu gue punya satu impian terbesar dalam hidup: pergi ke teater jkt 48. Entah kenapa pergi ke teater jkt 48 bisa jadi impian yang harus gue capai dalam hidup. Gue suka iri ngeliat wota lain yang bisa ke teater jkt 48, nonton secara langsung, dan bisa handshake sama anggota jkt 48. Konon katanya sehabis handshake, para wota gak cuci tangannya sebulan.




Gue pengen banget ke teater jkt 48, tapi lokasinya di Jakarta, sedangkan gue ada di Bali. Kalo pun deket, gue gak ngerti gimana cara masuknya. Apa perlu ktp? Waktu itu gue masih kelas 1 smp, gak mungkin gue dateng ke sana lalu nunjukkin kartu anggota perpustakaan.

Dulu gue pernah dibeliin sama Bokap majalah edisi khusus jkt 48. Berkat majalah itu, pengetahuan gue makin bertambah, soal jkt 48. Belum lagi gue juga dapet tiga poster dari majalah tersebut. Dua poster anggota jkt 48, satu lagi cewek jepang yang gak gue tau, tapi gue tempel aja di tembok kamar. Sebelum tidur gue ngeliatin, bangun tidur gue ngeliatin, berasa bobok bareng.

Lalu setiap produk yang diiklanin oleh jkt 48, pasti gue beli. Misalnya waktu itu iklan minuman pocary sweat. Dari yang dulunya gak suka sama sekali, mendadak jadi orang yang
hidupnya akan mati kalo gak minum pocary

Gue pernah sekali bikin status pamer di facebook, pamer minum pocary sweat. Entah kenapa waktu itu gue bisa bangga minum pocary. Tapi bagi gue saat itu sih keren aja. Biar dianggep fans sejati. Bukannya mendapat pujian, yang ada gue malah dibully temen di dunia maya karena status gue yang ambigu.

Standar gue dalam mencari cewek juga makin tinggi. Harus cantik, kalo jelek, gue tolak. Harus mirip sama anggota jkt 48 yang gue suka. Padahal, cewek jelek aja belum tentu mau sama gue.



Cowok yang suka jkt 48 kadang suka dianggap lemah. Gue pernah dianggap lemah karena terlalu terobsesi sama jkt 48. Padahal kan belum tentu. Pada suatu waktu gue lagi megang botol fruit tea, gak sengaja jatuh kena kaki gue. Bukannnya niupin kaki, mijetin kaki, malah gue update status kesakitan. Omongan mereka ada benernya juga.



Gue yakin hampir semua wota punya impian untuk macarin anggota jkt 48. Apalagi tau kalo semuanya pada jomblo. Karena dulu ada aturan di mana anggota jkt 48 itu gak boleh pacaran selama masih belum keluar. Aturan ini dibuat mungkin biar pada fokus kerjaan, gak jadi masalah, dan biar gak nyakitin hati fans.

Selama ngefans belum sekali pun gue ngeliat jkt 48 tampil secara langsung. Soalnya jarang banget ke daerah gue. Sekalinya ke sana, bingung gak ada yang nganter. Temen gak ada, sesama fans gak ada, masa ngajak Bokap?

Banyak temen facebook gue yang juga suka sama jkt 48. Entah mereka suka lagunya, orangnya, atau pahanya. Ada beberapa jenis fans yang gue tau, misalnya, fans normal, fans lumayan, dan fans zombie. Fans normal biasanya hanya sekedar suka biasa. Fans lumayan biasanya ngikutin update terbaru. Sementara fans zombie, tau segalanya, hidup mereka didedikasikan untuk idolanya.

Sesama temen yang saling suka jkt 48, biasanya kami saling ngetag kalo ada foto terbaru. Pernah gue nemu temen facebook kampret yang tiba-tiba ngomentarin idola gue itu jelek, sampah, dan yang ngefans itu banci. Siapa sih yang gak kesel baca komentar kayak gitu? Belum lagi nih orang pake akun palsu. Temen sekolah gue yang nyamar? Cewek freak yang suka sama gue? (mustahil) Atau, jangan-jangan tante gue nyamar?

Gak lama ngefans, lama-lama mulai ada keinginan buat berhenti. Soalnya banyak orang sekitar yang gak suka, kebetulan juga gue mulai suka sama temen sekelas. Walau gak mirip anggota jkt 48, setidaknya cantik, masih bisa ditolerir. Justru tampang gue yang gak bisa ditolerir.

Gue pun resmi menjadi manusia normal seutuhnya. Beberapa tahun kemudian, tahun 2018, gue mulai penasaran, kayak gimana jkt 48 sekarang. Ternyata banyak yang beda. Mulai dari anggotanya yang makin banyak, banyak juga yang keluar, ada juga yang nikah. Tapi gak sama fans. Melainkan sama orang lain.

Anggotanya juga makin banyak yang cantik, tapi sayangnya fans jkt 48 menurut gue mulai berkurang. Udah gak seheboh jaman dulu. Gue tau apa yang mereka rasakan. Udah ngefans banget, ngeluarin duit buat mereka, eh kawinnya sama orang lain.

Jumat, 21 Desember 2018

Pengalaman Suram Sewaktu Kemah

Dulu pas kecil gue kepengen banget berkemah di alam liar. Menikmati hidup di alam bebas, berburu makanan dan minuman, pasti keren. Pas udah gede gue sadar, kemah gak seindah yang gue bayangkan. Mau berkemah di alam liar? Di depan rumah aja udah ketakutan. Takut dirampok.

Semenjak mengenal pramuka, barulah gue tau ternyata kemah itu ribet. Perlu banyak persiapan, apalagi kalo berkelompok. Gue malah takut sama yang namanya kemah berkelompok, takut gue gak ada kontribusi dan kegunaan.

Sayangnya gue gak bisa menghindar dari yang namanya kemah. Jadi sewaktu kenaikan kelas 10, ada kegiatan kemah wajib. Maunya sih gak ikut, soalnya gue bisa kelewatan nonton euro 2016 selama empat hari (alasan yang keren) Tapi karena sekali dalam hidup, maka gue ikut kemah.

Hal yang bisa menggambarkan gimana rasanya kemah pertama kali


Lokasi kemahnya ada di Margarana. Tempat di mana para pahlawan dimakamkan. Walaupun begitu, yang namanya kuburan tetep aja serem. Kebetulan anak smk lebih duluan kemah di sana, lalu gue penasaran, gimana pengalaman anak smk yang kemah di sana.

"Er, lo pernah kemah di Margarana kan?" gue ngechat temen lama gue yang masuk smk.

"Pernah, kenapa?" dia nanya balik.

"Enak gak kemah di sana?" gue nanya penasaran.

"Temen gue banyak yang kesurupan massal. Teriak, nangis, sambil ngamuk. Tiap pagi sama sore," temen gue jawab.

Sungguh cara yang tepat bikin gue takut kemah. Gue jadi kepikiran, andai aja kesurupannya udah ada jadwal dan targetnya. Mungkin gue gak bakal kepikiran. Masalahnya katanya sih random, siapa pun yang ada di sana bisa jadi korban kesurupan. Gue harus nyari solusi biar gue gak jadi korban nanti, siapa tau temen gue ini saksi bisu yang selamat.

"Er, gimana sih caranya biar gak kesurupan?" gue meminta petuah dari seorang saksi bisu yang selamat.

"Kalo tidur jangan ngadep bangunan apa gitu. Jangan ngelewatin aula sendirian, jangan ngomong kasar," dia berpesan.

Sekarang gue punya bekal penting yang bisa menyelamatkan gue pas kemah nanti. Gue berniat untuk gak menghimbau dan ngasi tau temen yang lain, tapi gue gak tega. Lalu gue pun ngasi tau temen yang lain, secara gak sadar gue udah nyebarin gosip dan ketakutan buat temen gue.

Gue termasuk beruntung karena masuk kelompok yang anggotanya lumayan akrab sama gue. Mereka juga pengertian, mereka ngerti kalo gue gak bisa diandalkan, jadi gue cuma disuruh bawa pisau sama penggorengan. Semua perlengkapan yang disuruh bawa oleh Sekolah, udah gue persiapkan. Salah satunya yaitu sleeping bag, yang cuma bikin barang bawaan tambah numpuk.

Besok paginya gue berangkat dengan membawa dua tas yang terisi penuh. Gue dapet kabar buruk kalo temen gue ada yang sakit. Keberuntungan di waktu yang tepat. Gue jadi mikir, andai anggotanya ada tiga orang, satu gak hadir, berarti temen gue sendirian. Karena kehadiran gue malah nyusahin. Barang kelompok juga banyak banget, padahal kemah cuma 2 hari.

Ketika tiba di lokasi kemah, tempatnya jauh berbeda dari yang gue bayangin. Sekitarnya gak ada kuburan. Keliatannya normal aja. Kemah memang ribet, nurunin semua barang kelompok dari truk, lalu nunggu intruksi selanjutnya untuk ngambil tenda, lalu bangun tenda bareng sesuai yang dulu pernah diajarin. Dan gue gak inget apa pun soal ilmu membangun tenda. Semoga temen gue bisa.

Jadi pas pada masang tenda, gue cuma megang tiang aja, biar keliatan ada yang dikerjain. Dari jauh gue ngeliat ada temen di kelas lain yang kelompoknya selalu gagal bangun tenda, udah jadi malah roboh. Sebelum memulai kegiatan, awali dengan makan. Gue makan roti bekel dari rumah, temen gue juga makan bekel yang mereka bawa.

Kegiatan pertama kemah ini yaitu lomba masak dan bikin tong sampah dari bambu (mungkin) Jelas dua kegiatan ini gue gak bisa diandalin. Masak? Cuma bisa masak-masakan. Bikin tong sampah dari bambu? Gue gak punya nilai seni sama sekali. Jadi lagi dan lagi kelompok gue yang kerja. Kelompok gue pada masak mie dengan bentuk paling aneh yang pernah gue liat. Lembek gitu, untungnya gak penuh laler.

kapan bisa masak mie hasilnya kayak gitu?


Soal lomba buat tong sampah, banyak kelompok lain dan tentunya kelompok gue juga sepakat untuk gak ngikut lomba. Gak lama ada pembina pramuka yang  dateng, lalu menghukum kami semua push up 30 kali. Hari ini kegiatannya banyak, sedihnya gue gak dapet jatah kurvei. Kurvei itu semacam kegiatan menjaga tenda, anggap aja terbebas dari siksaan. Entah kapan gue dapet jatahnya.

Paling males sama kegiatan bersih-bersih. Apalagi sambil penuh paksaan, berasa jadi romusha. Selesai berisihin sampah yang penuh belatung, kemudian kembali lagi ke tenda untuk makan. Masakan sore itu cuma ada sarden sama nasi. Bersyukur aja, setidaknya bukan nasi sama laler. Kemudian gue ngeliat kelompok lain, masakannya ada sosis, sayuran, pokoknya sedap.

Mandi sewaktu kemah bukanlah hal yang menyenangkan. Awalnya gue mengira kita semua bakal mandi di alam bebas, misalnya di sungai. Cowok dan cewek digabung jadi satu. Kompak dan kekeluargaan. Realitanya kamar mandinya dipisah, kamar mandinya terbatas. Pada rebutan masuk kamar mandi, tiap gue ke kamar mandi, banyak mayat tergeletak.

Belum lagi kalo nemu kamar mandi yang pintunya gak bisa dikunci, airnya mati, pup yang gak disiram. Kadang gayung buat ngambil air juga gak ada. Kalo pun nemu kamar mandi yang baik-baik aja, ada gangguan mental dan psikologis. Misalnya pintu yang diketok dan digedor.

Malamnya ada ibadah dan acara pembukaan kemah. Gue terpaksa dateng, acaranya ngebosenin. Sepulang dari sana udah malem banget, sekitar jam 9 lebih. Jalanan gelap, untungnya ada senter. Jam 10 semua murid wajib tidur, soalnya ada beberapa guru dan petugas pramuka yang berpatroli. Entah menjaga keamanan atau mau mencegah ada murid yang kabur.

Tenda gue memang sejuk, letaknya strategis, strategis dengan sarang nyamuk. Malam itu gue dan temen lain susah tidur, pake autan pun gak mempan. Gue frustasi, ada temen yang udah tidur gue bangunin. Lalu gue keinget, apa kegunaan sleeping bag kalo gak dipake buat tidur? Dan gue pun bisa tidur nyenyak, sementara temen gue jadi korban grepe nyamuk.

"BANGUN! BANGUN! 10 MENIT LAGI KE WANTILAN!" kata seorang anggota kelompok lain, membangunkan sekitarnya.

Kita semua yang ada di tenda kebangun. Entah kenapa gue ngerasa tidurnya kok cepet banget. Gue ngeliat sekitar juga pada bangun. Pas gue meriksa jam, masih jam 3 pagi. Padahal ngumpulnya jam 6. Ditipu, kampret.

Pagi harinya ada kegiatan operasi plastik, bersihin sekitar area perkemahan. Dan kami belum tau siapa yang bakal kurvei pagi ini.

"Siapa nih yang kurvei?" ketua sangga gue nanya.

Spontan gue angkat tangan. Dan bener, kali ini giliran gue bersama salah satu temen deket. Kita berdua kurvei, santai, nontonin para budak tunas kelapa bersih-bersih. Kurvei memang enak, bisa mandi tanpa ngantri, bisa tiduran. Tapi gue mesti tetep bertanggung jawab, gue dan temen yang kurvei bersihin tenda biar gak kotor. Hasilnya, sama aja sih.

Gue keluar tenda, merhatiin sekitar. Kok kelompok lain yang kurvei pada masak ya? Astaga gue lupa, tugasnya kurvei selain jaga tenda yaitu masakin temen. Hebatnya gue gak bisa masak. Gue memutar otak, memikirkan masak apa yang paling gampang.

"Cuy, masak mie sama telor yuk? Lo bisa kan? " gue memberi usulan.

"Yuk dah, dicoba aja dulu," jawabnya bersemangat.

Kemudian kita keluar dari tenda, untuk mulai masak. Baru awal aja udah bermasalah. Susah ngidupin kompornya. Untungnya ada temen lain yang nolongin. Pas udah hidup, temen gue jauh lebih semangat. Dia masukin mie, disusul mie lainnya ke dalam penggorengan. Lalu dia masukin telor ke dalam penggorengan juga. Kayaknya nih anak udah berpengalaman masak mie di medan perang.

Gue cuma diem aja, sambil ngeliatin sekeliling. Kok pada senyam-senyum ke arah gue? Gue ngeliat ke penggorengan, masakannya temen gue gak berbentuk. Mienya lembeknya kelewatan, telurnya ancur jadi mirip keju. Salah satu temen ada yang mendekat.

"Masak apa coy?" tanya dia pas udah deket.

"Mie goreng sama telor," jawab gue santai.

"HAHAHAH masakan kalian...." mendadak dia ketawa setelah ngeliat.

"Kenapa?" gue nanya penasaran.

"HANCUR," jawabnya to the point.

Masakan pun diambil alih oleh temen gue tersebut. Gue berharap bisa memperbaiki segala kerusakan yang terjadi.

"Kok masaknya pake garam banyak gitu?" gue nanya sebagai seorang pemula.

"Biar gak hambar coy," jawabnya. Gue takjub dan percaya.

Pas gue coba, rasanya kayak makan garam satu kardus. Hambar, tapi gue habisin. Daripada gak makan. Jadi itu porsi cuma cukup buat berdua, temen yang lain gak kita masakin mie lagi.

Selanjutnya kegiatan outbond. Pasti menyenangkan, apalagi gratis. Sewaktu udah ikutan, taunya tersiksa, ngantrinya. Untung gue sakit jadi tiduran di uks. Berharap diobatin sama cewek bening, yang dateng malah burik.

Malemnya ada kegiatan pentas seni. Karena sakit gue enggak ikutan. Jadi gue kurvei, bertiga. Padahal aturannya cuma boleh dua. Satu lagi ngumpet di tenda lain. Gue tiduran, satu lagi temen bertugas masak.

Gue merhatiin dia. Pertama dia masukin minyak goreng. Kedua dia masukin beras. Gue ngerasa ada yang gak beres.

"Lo masak nasi pake minyak goreng ya?" gue nanya, demi keselamatan satu tenda.

"Anjrit lupa!" temen gue merespon. Malam itu gue menyelamatkan nyawa satu tenda.

Besok paginya hari terakhir, gue makin semangat. Saking semangatnya gue sampai gak mandi. Takut mandi menghambat pulang. Gue udah bosen makan sarden, mie, dan nasi yang bawahnya gosong tiap hari.

Menjelang jam pulang, bencana datang. Gue heran, kenapa sakit perut telat datengnya. Gue lupa kalo selama kemah gue gak berak dua hari, makan masakan setengah beracun, minum air hujan. Dari pagi gue sakit perut.

Gue berusaha menahan sakit perut. Mau pup di kamar mandi sana, psikologis dan mental gue gak kuat dari gangguan sekitar. Mau pulang aja lama banget. Seolah diperlambat. Mulai dari kegiatan operasi semut, semacam bersih-bersih sambil berbaris secara lurus. Ceramah yang lama, dan angkot yang datengnya lama. Mungkin di jalan ditusuk peserta kemah yang kabur duluan.

Akhirnya gue berhasil bertahan selama 6 jam lebih menahan sakit perut. Sesampai di Sekolah, nunggu jemputannya lama, nunggu truk yang ngangkut barang juga keterlaluan. Belum lagi ada tragedi peserta yang telat kesurupan. Jadi pas udah di sekolah baru kesurupan. Setannya gak pengertian.

Pengalaman kemah pertama memang penuh tragedi, tapi seru, berkat masuk di kelompok yang abnormal. Kemah kedua pun ada, tapi gue gak ikut. Banyak temen yang nyangka gue males, gak jelas, nyusahin temen. Padahal alasan gue gak kemah bukan itu.

Kalo pun ada temen yang baca ini, alasan gue cuma satu: kelompok gue yang baru orangnya normal.

Selasa, 18 Desember 2018

Kena Razia Polisi Bayar Pake Uang Recehan

Adaptasi memang perlu waktu. Begitulah yang gue rasakan ketika pindah dari rumah yang jaraknya 5 menit ke sekolah, jadi 30 menit ke sekolah. Biasanya gue lewat jalan raya besar yang lebih cepet menuju Sekolah. Seharusnya sih bisa lebih cepet, tapi karena gue jalannya terlalu pelan, jadinya 30 menit. Walaupun udah lewat jalan yang tercepat, gue masih aja sering telat ke sekolah. Kalo udah telat, gak berani masuk. Udah berangkat, taunya telat 5 menit, gak jadi ke sekolah. Nongkrong di warung.

Tiap pulang juga gue selalu lewat jalan yang sama. Ada hari di mana jalanan di sana macet parah, untungnya gue naik motor. Jadi bisa nyelip, gak pasrah kayak mobil. Kadang kasian aja ngeliat pengguna mobil waktu macet, gimana nasib mereka kalo tiba-tiba kebelet buang air kecil atau besar? Apa mereka buang air di dalam mobil? Keluar mobil lalu buang air di mobil orang? Atau, lewat jendela mobil? Entah, kasian aja.

Setelah berhasil melewati sela sempit, hampir lolos dari macet, gue ngerasa ada yang gak beres. Pinggir jalan ternyata banyak ada polisi. Gue menduga terjadi beberapa hal makanya macet. Pertama, ada kecelakaan, makanya ada polisi. Kedua, polisi lagi ngatur lalu lintas. Ketiga, ada penangkapan pencuri galon air mineral. Gue mencoba berpikiran positif aja.

Lama-lama gue sadar, kehadiran banyak polisi di sana untuk razia. Saat seperti ini ada keinginan untuk pura-pura pingsan atau kesurupan di atas motor, tapi niat itu gue urungkan. Takut viral di sosmed. Jujur aja gue takut sama razia, disuruh denda, motor diangkut polisi. Terus gue ke sekolah naik apa? Naik mobil tahanan?

Gue keinget kata Bokap kalo ada razia polisi. Bokap nyuruh gue untuk berusaha berani, karena polisi nyari pengguna kendaraan yang keliatan takut, atau gugup gitu. Maka dari itu gue harus berani, gue pasang tampang paling galak. Perlahan mendekati polisi, lalu dengan berani gue bilang, "Saya gak bawa SIM!"

Itu contoh berani yang goblok. Biar gak ketangkep, gue mencoba untuk gak grogi. Maka gue sedikit meminggirkan motor, biar gak menimbulkan kecurigaan kalo menjauh. Dengan penuh rasa berani gue jalan di pinggir. Gak lama, gue yang distop.

Anjrit! Berani malah menyesatkan. Sama aja gue kena tangkep. Gue bingung gak punya sim, adanya kartu timezone. Mau bayar juga gak tau pake apa, kalo pun motornya diambil, gue gak ada uang buat naik ojek.

Salah satu polisi menghampiri gue. "Gus, coba perlihatkan sim dan stnknya," kata si pak pol tanpa tersenyum sedikit pun.

Seketika gue syok. Gak ada sim, bisa ditangkep nih gue. Baru umur 16, tapi udah masuk penjara, menyedihkan. Lulus sekolah belum, kerja belum, punya cewek cantik juga belum. Masa depan masih panjang, harus berakhir di jeruji besi.

"Sim saya gak punya pak," jawab gue pelan.

"Oh, kalo begitu, stnknya ada?" pak pol bertanya lagi.

Gue langsung nyari stnk, semoga aja ada. Kalo sampai gak bawa lagi, makin lama gue di penjara. Untungnya stnk ada di bagasi motor, masih aman. Pak polisi memerhatikan stnk gue dengan serius.

"Stnknya ini udah lama mati, jadi motornya gak bisa diangkut," kata pak pol dengan kecewa.

Gue lega, untungnya dia gak bilang, "Tapi orangnya saya angkut." Gue seneng, masa depan gue masih terjamin. Keberadaan motor begitu penting buat hidup gue. Gue jadi kepengen biarin nih stnk mati seumur hidup, siapa tau lain kali kalo ada razia motor gue gak bisa diangkut.

"Mau ke mana?" Pak pol bertanya lagi.

Gue agak heran, padahal waktu itu masih pake seragam sekolah. Masa gue mau nanem padi. "A... Mau pulang ke rumah pak, udah deket nih," gue jawab sejujurnya.

Goblok juga gue, ngasih tau kalo rumah udah deket. Takutnya bisa dilaporin nih kena razia.

"Sekolah di mana gus?" lagi dan lagi pak polisi nanya. Gue curiga sebentar lagi bakal nanya, "Nomer hapenya berapa?"

"Sma harapan," gue merespon santai.

"Besok-besok jangan lewat sini lagi. Lewat jalur blabla aja," pak pol ngasih saran ke gue. Entah gue gak tau, apa pas gue lewat sana taunya ada razia kayak gini lagi. Perangkap.

Gue manggut-manggut aja. Kayaknya pesannya bermanfaat banget buat pelajar kayak gue. Gak lama dia bikin gue syok, "Gus, karena gak bawa sim, sekarang harus denda," kata pak polisi.

Denda? Mau bayar pake apaan? Bayar pake saldo buat main di timezone? Gue masih bengong gak percaya.

"Pelanggaran gak bawa sim bayar 250 ribu, tapi karena gus masih pelajar, bayar seadanya aja," ujar pak polisi, nungguin duit gue.

Gue memeriksa kantong celana, ada banyak duit. Pas gue liat lagi, isinya uang recehan semua. Kalo dihitung semua, jumlahnya paling 10 ribuan. Yaudah gue kasi aja, pasrah besok mau jajan apaan di sekolah. Gue bukan pelajar yang sekali bekel ratusan ribu. Dan polisi ini tetep merenggut uang recehan gue tanpa rasa kasihan.



Anehnya, uang recehannya disuruh naruh di jok motor, lalu diambil. Entah kenapa, mungkin biar gak diliat orang banyak. Gue masih gak rela, uang recehan sepuluh ribuan diambil gitu aja. Gak tau uang segitu mau dibuat apa. Mau ngisi ulang saldo timezone?

"Silahkan berkendara lagi gus," ucap pak polisi, memberi gue ijin untuk pulang.

Dengan berat hati gue pulang. Sepanjang perjalanan gue kepikiran uang recehan tadi. Sisa sepuluh ribuan diambil, padahal duit segitu berharga banget buat gue di sekolah.

Tapi gue termasuk beruntung karena motor gak diangkut. Apalagi stnk gue udah setahun lebih mati. Dari kehilangan uang recehan ini ada pelajaran yang bisa gue petik. Lebih baik menghabiskan seluruh duit recehan, baru pulang sekolah.